archives

Archive for

Panduan I’tikaf Ramadhan

I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/1699)

Dalil Disyari’atkannya I’tikaf

Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”(Lihat Al Mughni, 4/456)

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.(HR. Bukhari no. 2044)

Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”(HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.(Latho-if Al Ma’arif, hal. 338)

I’tikaf Harus Dilakukan di Masjid

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa disyaratkan melakukan i’tikaf di masjid.”(Lihat Fathul Bari, 4/271.) Termasuk wanita, ia boleh melakukan i’tikaf sebagaimana laki-laki, tidak sah jika dilakukan selain di masjid.(Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/13775.)

I’tikaf Boleh Dilakukan di Masjid Mana Saja

Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”.(Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/151.)

Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya, “I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramdhan dan i’tikaf di seluruh masjid.” Ibnu Hajar menyatakan, “Ayat tersebut (surat Al Baqarah ayat 187) menyebutkan disyaratkannya masjid, tanpa dikhususkan masjid tertentu” (Fathul Bari, 4/271).( Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, ”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid yaitu masjidil harom, masjid nabawi dan masjidil aqsho”; perlu diketahui, hadits ini masih diperselisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat). (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/151). Jika melihat perkataan Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah, beliau lebih memilih bahwa hadits tersebut hanyalah perkataan Hudzaifah ibnul Yaman. (Lihat Fathul Bari, 4/272.)

Para ulama selanjutnya berselisih pendapat masjid apakah yang dimaksudkan. Apakah masjid biasa di mana dijalankan shalat jama’ah lima waktu (Walaupun namanya beraneka ragam di tempat kita, baik dengan sebutan masjid, musholla, langgar, maka itu dinamakan masjid menurut istilah para ulama selama diadakan shalat jama’ah lima waktu di sana untuk kaum muslimin. Ini berarti jika itu musholla rumahan yang bukan tempat ditegakkan shalat lima waktu bagi kaum muslimin lainnya, maka ini tidak masuk dalam istilah masjid. Sedangkan dinamakan masjid Jaami’ jika ditegakkan shalat Jum’at di sana. Lihat penjelasan tentang masjid di Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/13754.) ataukah masjid jaami’ yang diadakan juga shalat jum’at di sana?

Imam Malik mengatakan bahwa i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja (asal ditegakkan shalat lima waktu di sana, karena keumuman firman Allah Ta’ala,

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i. Namun Imam Asy Syafi’i rahimahullah menambahkan syarat, yaitu masjid tersebut diadakan juga shalat Jum’at. (Lihat Al Mughni, 4/462.) Tujuannya di sini adalah agar ketika pelaksanaan shalat Jum’at, orang yang beri’tikaf tidak perlu keluar dari masjid.

Kenapa disyaratkan di masjid yang ditegakkan shalat jama’ah ? Ibnu Qudamah katakan, “Shalat jama’ah itu wajib (bagi laki-laki). Jika seorang laki-laki yang hendak melaksanakan i’tikaf tidak berdiam di masjid yang tidak ditegakkan shalat jama’ah, maka bisa terjadi dua dampak negatif: (1) meninggalkan shalat jama’ah yang hukumnya wajib, dan (2) terus menerus keluar dari tempat i’tikaf padahal seperti ini bisa saja dihindari. Jika semacam ini yang terjadi, maka ini sama saja tidak i’tikaf. Padahal maksud i’tikaf adalah untuk menetap dalam rangka melaksanakan ibadah pada Allah.”(Al Mugni, 4/461.)

Wanita Boleh Beri’tikaf

Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”(HR. Bukhari no. 2041.)

Dari ‘Aisyah, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”(HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172.)

Namun wanita boleh beri’tikaf di masjid asalkan memenuhi 2 syarat: (1) Meminta izin suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (godaan bagi laki-laki) sehingga wanita yang i’tikaf harus benar-benar menutup aurat dengan sempurna dan juga tidak memakai wewangian. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/151-152.)

Lama Waktu Berdiam di Masjid

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf tidak ada batasan waktu maksimalnya. Namun mereka berselisih pendapat berapa waktu minimal untuk dikatakan sudah beri’tikaf. (Lihat Fathul Bari, 4/272.)

Bagi ulama yang mensyaratkan i’tikaf harus disertai dengan puasa, maka waktu minimalnya adalah sehari. Ulama lainnya mengatakan dibolehkan kurang dari sehari, namun tetap disyaratkan puasa. Imam Malik mensyaratkan minimal sepuluh hari. Imam Malik juga memiliki pendapat lainnya, minimal satu atau dua hari. Sedangkan bagi ulama yang tidak mensyaratkan puasa, maka waktu minimal dikatakan telah beri’tikaf adalah selama ia sudah berdiam di masjid dan di sini tanpa dipersyaratkan harus duduk. (Lihat Fathul Bari, 4/272.)

Yang tepat dalam masalah ini, i’tikaf tidak dipersyaratkan untuk puasa, hanya disunnahkan (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/153). Menurut mayoritas ulama, i’tikaf tidak ada batasan waktu minimalnya, artinya boleh cuma sesaat di malam atau di siang hari. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/154) Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak (I’tikaf mutlak, maksudnya adalah i’tikaf tanpa disebutkan syarat berapa lama.) adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).”(Al Inshof, 6/17)

Yang Membatalkan I’tikaf

Keluar masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak. Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah ayat 187. Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa yang dimaksud mubasyaroh dalam surat Al Baqarah ayat 187 adalah jima’ (hubungan intim). (Fathul Bari, 4/272).

Yang Dibolehkan Ketika I’tikaf

Keluar masjid disebabkan ada hajat yang mesti ditunaikan seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid. Melakukan hal-hal mubah seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid atau bercakap-cakap dengan orang lain. Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.
Mandi dan berwudhu di masjid.
Membawa kasur untuk tidur di masjid.
Mulai Masuk dan Keluar Masjid

Jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Aisyah, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”(HR. Bukhari no. 2041)

Namun para ulama madzhab menganjurkan untuk memasuki masjid menjelang matahari tenggelam pada hari ke-20 Ramadhan. Mereka mengatakan bahwa yang namanya 10 hari yang dimaksudkan adalah jumlah bilangan malam sehingga seharusnya dimulai dari awal malam.

Adab I’tikaf

Hendaknya ketika beri’tikaf, seseorang menyibukkan diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. (Lihat pembahasan I’tikaf di Shahih Fiqh Sunnah, 2/150-158)

Wallahu’alam

Advertisements

Khitanan Endi

 

Undangan Khitanan Tampak Depan (atas) dan Tampak Belakang (bawah)

 

Al Qur’an di Microsoft Word

Setelah memposting bagaimana setting agar bisa menulis Arab pada Windows XP, kali ini penulis mencoba lebih dekat lagi dengan bagaimana memasukan Ayat-ayat Al Qur’an beserta terjemahannya di Microsoft Word. Ini lebih mudah karena kita tinggal Insert saja layaknya Menu pada Microsoft Word. Kalo anda tertarik silahkan download di sini, Software ini sangat ringan tinggal setup saja sebentar makan Al Qur’an akan langsung tersedia pada menu Microsoft Word anda.

Selamat mencoba, semoga bermanfaat….

Setting Dukungan Bahasa Arab Pada Windows XP

Dukungan kemampuan penggunaan huruf Arab dalam dunia tulis-menulis sangat diperlukan saat ini baik untuk oarng yang awam maupun telah mahir dalam urusan bahasa Arab, untuk itu penulis sengaja memposting ini dengan harapan dapat berguna bagi pihak yang memerlukan tulis menulis dalam bahasa Arab. Sebelum installasi bahasa Arab ini terlebih dulu siapkan Master Program Windows XP

Langsung saja……

Kotak Dialog Regional and Languages Options

1. Buka CONTROL PANEL > REGIONAL & LANGUAGE OPTIONS

Pilih TAB Languages, seperti di bawah ini :

Tab Languages

Klik/centang pilihan Install files for complex script to left languages [including Thai]

Klik tombol Details


Pada ScrollBox, pilih Arabic (Saudi Arabia)

Klik tombol Language Bar…
Klik/Centang pilihan  Show the Language Bar on The Desktop, pada pilihan yang muncul.


Klik TAB Advenced, pada scrollbox pilih Arabic(Saudi Arabia)

Klik tombol Apply, maka sistem akan meminta kita untuk memasukan program master Win XP

Ikuti petunjuk installasi sampai selesai.

Selamat Mencoba, semoga bermanfaat…

Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih/Witir

Berikut beberapa kekeliruan saat pelaksanaan shalat tarawih berjama’ah dan tidak ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Adanya Bilal. Bilal ini adalah seseorang yang berseru seperti, “Sholu sunnatat tarowihi jami’a rahimahumullah, ash sholaatu illaaha illallaah, Allahumma sholi ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ‘alii Muhammad”. Kurang lebih seperti itu, dan ditiap-tiap 2 raka’at selalu diulang seperti ini, demikian juga witir. Ini adalah sebuah kekeliruan, sebab rasululloh shallallahu’alaihi wa salam tidak pernah mengajarkan hal ini. Bahkan rasululloh shallallahu’alaihi wa salam sendiri mengerjakan shalat tarawih sendiri dengan istirahat. Berbeda dengan yang kita lakukan saat ini, tidak ada istirahat di tiap 4 raka’atnya. Padahal yang afdhol dan sesuai sunnah adalah dengan istirahat. Apalagi ada yang sholatnya secepat  kilat. Hukum sholat kilat sudah kita ketahui bahwa sholatnya tidak sah dan harus mengulang. Karena tuma’ninahnya tidak ada.

2. Shalat tidak dilakukan dengan tuma’ninah. Di beberapa masjid kita bisa menjumpai shalat tarawih berjama’ahnya sangat cepat, bahkan saya sendiri sampai tidak bisa mengimbangi karena saking cepatnya. Tuma’ninah sebagaimana yang Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam contohkan adalah setiap bagian sholat mendapatkan nilainya. Ketika ruku’maka benar-benar punggung harus lurus dan bacaannya juga benar, tidak tergesa-gesa. Kemudian ketika i’tidal juga tulang-tulang itu kembali lurus, ketika sujud benar-benar sujud. Bahkan kalau tiap bagian shalat itu tidak mendapatkan hak-nya maka rasulullah shallallahu’alaihi wa salam menyuruh untuk diulang.

3. Seakan Mewajibkan adanya kultum di shalat tarawih. Ini juga kekeliruan sebab kultum itu bukan wajib, tapi hanya sebagai pengisi saja karena kemungkinan saat itu banyak jama’ahnya sehingga sangat percuma sekali kalau tidak diisi tausiyah,karena ini juga bulan Ramadhan. Ini tidak mengapa, asalkan tidak mewajibkan.

4. Berdzikir setelah shalat witir dengan bacaan,“Subhanallahil Malikil Qudus, Subhanallahil Malikil Qudus, Subhanallahil Malikil Qudus, Subuhun Qudusun, Rabbul Malaaikati warruuh, Subuhun Qudusun, Rabbul Malaaikati warruuh, Subuhun Qudusun, Rabbul Malaaikati warruuh”. Ini tidak ada dasarnya, sebab rasululloh shallallahu’alaihi wa salam hanya mengajarkan: “Subhanallahil Malikil Qudus, Subhanallahil Malikil Qudus, Subhanallahil Malikil Qudus” kemudian pada yang ketiga beliau membaca suaranya dengan suara keras, disambung dengan “Rabbul Malaaikati Warruuh”. Yang ini haditsnya shahih dari Imam Nasa’i dan Imam Daraquthni. Sedangkan yang dibaca orang-orang tadi tidak ada dasarnya.

5. Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandoi oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190)

6. Menjelang 1 Syawwal masjid-masjid malah sepi, bahkan yang awalnya penuh shafnya sampai ke belakang malah semakin ke depan. Padahal 10 hari terakhir adalah hari-hari yang paling baik di bulan Ramadhan, karena pada sepuluh hari terakhir ada Lailatul Qadar yang nilai 1 malam adalah sama dengan 1.000 bulan.

7. Setelah sholat witir dan dzikir ramai-ramai mengucapkan Nawaitu Shoumaghadin dst. Ini merupakan hal yang tidak pernah diajarkan oleh Rasululloh shallallahu’alaihi wa salam. Sebab niat itu ada di dalam hati bukan dilafazhkan. Dan jumhur ulama berkata demikian. Kalaupun memang niat itu dilafazhkan seharusnya setiap orang itu melafazhkan niat mereka ketika makan, tidur, mandi dan sebagainya. Nyatanya rasululloh shallallahu’alaihi wa salam tak pernah melafazhkan niat satupun, entah itu niat shalat, puasa dan sebagainya.
Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, 1:268).

7. Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Hal ini tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:140).

8. Bubar sebelum shalat selesai. Hal ini sering terjadi ketika kita melihat banyak jama’ah yang bubar ketika shalat witir mau dimulai, padahal yang benar adalah mengikuti shalat dengan imam sampai selesai agar mendapatkan pahala shalat semalam suntuk. Sekalipun alasannya adalah “witir di rumah”, tetap yang paling utama dan afdhal adalah shalat bersama imam sampai selesai.

Demikian kekeliruan-kekeliruan yang biasanya saya temukan, semoga bisa kita perbaiki dan tidak diulang lagi oleh kita semua. Sebab Setiap amalan yang tidak bersumber dari Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak.

Wallahua’lam bishawab.

 

 

Sholat Witir

Shalat witir hukumnya sunnah muakkadah yaitu sunnah yang ditekankan sekali. Meskipun ditekankan sekali namun bukan berarti menjadi wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah meninggalkan shalat witir baik saat bermukim maupun sedang bepergian.

Shalat witir adalah shalat yang dilakukan dengan jumlah raka’at ganjil (1, 3, 5, 7 atau 9 raka’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751). Jika shalat witir dilakukan dengan tiga raka’at, maka dapat dilakukan dengan dua cara: (1) tiga raka’at, sekali salam [HR. Al Baihaqi], (2) mengerjakan dua raka’at terlebih dahulu kemudian salam, lalu ditambah satu raka’at kemudian salam [HR. Ahmad 6:83].

 

Dalil-dalilnya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu ganjil dan mencintai yang ganjil.” (Muttafaqun’alaihi)

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia bertutur, “Sesungguhnya shalat witir tidak harus dikerjakan dan tidak (pula) seperti shalat kamu yang wajib, namun Rasulullah melakukan shalat witir, lalu bersabda, “Wahai orang-orang yang cinta kepada Al-Qur’an, shalat witirlah, karena sesungguhnya Allah itu ganjil yang menyenangi (shalat) yang ganjil.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no:959, Ibnu Majah I: 370 no:1169, Tirmidzi I:282 no: 452, Nasa’i III:228 dan 229 dalam dua hadits dan ‘Aunul Ma’bud IV:291 no:1403 secara marfu’ saja)

Waktu Pelaksanaan

  1. Waktu antara ba’da shalat isya’ sampai dengan menjelang terbit fajar shubuh
    Hadist Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu dari Abu Bashrah Al-Ghifariradhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,”Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menambah kepada kalian satu shalat yaitu witir maka kerjakanlah ia pada waktu antara shalat Isya’ hingga shalat shubuh.” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani) 

    Begitu pula yang telah dicontohkan melalui perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadist ‘Aisyah Radhiyallahu’anha,
    Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata, “Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan witir di awal malam, pertengahannya dan akhir malam. Sedangkan kebiasaan akhir beliau adalah beliau mengakhirkan witir hingga tiba waktu sahur.” (HR. Muslim)

  2. Dan bagi yang khawatir tidak bisa bangun di sepertiga malam yang akhir maka dianjurkan mengerjakannya di awal waktu.
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, “Kekasihku Rasulullah Shalallahu’alahi wasallam berpesan kepadaku dengan tiga perkara (yang tidak akan aku tinggalkan hingga mati): [1] berpuasa tiga hari pada setiap bulannya, [2] mengerjakan dua rakaat shalat Dhuha, dan [3] mengerjakan shalat witir sebelum aku tidur.” (Muttafaqun’alaihi). Dan kita ketahui bersama bahwa Abu Hurairah di malam hari menggunakan waktunya untuk mengulangi hadits-hadits yang ia hafal, sehingga sulit bagi beliau bangun di akhir malam. Jadi, beliau dinasehatkan shalat witir sebelum tidur.
  3. Witir pada akhir malam lebih utama bagi orang yang yakin dapat bangun. Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    Barangsiapa yang yakin dapat bangun malam, maka shalat witirlah pada akhir malam, sebab bacaan pada akhir malam itu dihadiri (oleh para malaikat) dan itu lebih baik.” (HR Muslim no 755)

Jumlah Rakaat dalam Shalat Witir

  1. Satu rakaat kemudian salam
    Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang saat itu beliau berada di atas mimbar, Bagaimana cara mengerjakan shalat malam?” Beliau menjawab, “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya. “” (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. Dua rakaat lalu salam kemudian disempurnakan dengan satu rakaat salam sebagai rakaat ketiganya.
    Praktek tersebut telah dilakukan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu sebagaimana dijelaskan Nafi’ Rahimahullah dalam pernyataan beliau, “Sesungguhnya Abdullah bin Umar pernah salam (mengakhirkan shalat) antara dua rakaat dengan satu rakaat dalam witir hingga memerintahkan untuk memenuhi sebagian kebutuhannya.” (HR al-Bukhari no 991 dan Imam Malik dalam al-Muwatha’ 1/125) 

    Ibnu Umar sendiri menyatakan, “Rasulullah pernah memisahkan antara dua rakaat dan yang satu (dalam Witir) dengan salam yang bisa kami dengar( HR Imam Ahmad 2/72,ath-thahawi 1/278 dan Ibnu Hibban 2/35)

  3. Dilakukan secara bersambung tiga rakaat dengan satu salam yaitu setelah rakaat ketiga.
    Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, “Rasulullah pada bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan tidak pernah shalat lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat jangan tanya tentang bagus dan panjangnya shalat beliau. Kemudian beliau shalat tiga rakaat.” (Muttafaqun ‘alaihi)
  4. Lima rakaat kemudian salam
    Dari ‘Aisyah ia berkata,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat malam sebanyak tiga belas raka’at. Lalu beliau berwitir dari shalat malam tersebut dengan lima raka’at. Dan beliau tidaklah duduk (tasyahud) ketika witir kecuali pada raka’at terakhir.” (HR Muslim)
  5. Sembilan rakaat: delapan rakaat dilanjutkan satu rakaat kemudian salam
    Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Kami dulu sering mempersiapkan siwaknya dan bersucinya, setelah itu Allah membangunkannya sekehendaknya untuk bangun malam. Beliau lalu bersiwak dan berwudhu dan shalat sembilan rakaat. Beliau tidak duduk dalam kesembilan rakaat itu selain pada rakaat kedelapan, beliau menyebut nama Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam. Setelah itu beliau berdiri dan shalat untuk rakaat ke sembilannya. Kemudian beliau berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, lalu beliau mengucapkan salam dengan nyaring agar kami mendengarnya. Setelah itu beliau shalat dua rakaat setelah salam sambil duduk, itulah sebelas rakaat wahai anakku. Ketika Nabiyullah berusia lanjut dan beliau telah merasa kegemukan, beliau berwitir dengan tujuh rakaat, dan beliau lakukan dalam dua rakaatnya sebagaimana yang beliau lakukan pada yang pertama, maka itu berarti sembilan wahai anakku.” (HR. Muslim no. 746)

Bacaaan Surat ketika Shalat Witir Tiga Rakaat

Dibaca dalam Witir pada rakaat pertama dengan “Sabbihisma Rabbikal A’la,” pada rakaat kedua dengan “Qul ya Ayyuhal Kafirun,” dan pada rakaat ketiga dengan “Qul Huwallahu Ahad, Berdasarkan hadist Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan,

“Nabi dalam shalat Witir membaca: Sabbihisma rabbikal A’la, Qul ya Ayyuhal Kafirun dan Qul Huwallahu Ahad pada masing-masing raka’at.” (At Tirmidzi no 462, An Nasa’i:no1702,Ibnu Majah no 1172 dishahihkan Al-Albani dalam shahih Sunan An-Nasa’i,1/372,shahih Sunan Ibnu Majah,1/139 dan shahih Sunan At-Tirmidzi,1/144)

Dituntunkan pula ketika witir untuk membaca do’a qunut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, ” Apa hukum membaca do’a qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) witir?” Jawaban beliau rahimahullah, “Tidak masalah mengenai hal ini. Do’a qunut (witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa membaca qunut tersebut. Beliau pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat qunut untuk shalat witir (Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait, -pen) [HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464, shahih kata Syaikh Al Albani]. Ini termasuk hal yang disunnahkan. Jika engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca do’a qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Al Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan. (Fatawa Nur ‘alad Darb, 2:1062)

Setelah witir dituntunkan membaca, “Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga (HR. An Nasai no. 1732 dan Ahmad 3/406, shahih menurut Syaikh Al Albani). Juga bisa membaca bacaan “Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri] (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An Nasai no. 1100 dan Ibnu Majah no. 1179, shahih kata Syaikh Al Albani)

 

Pengguna Jejaring Sosial Baru Google+ Meningkat

Google baru saja meluncurkan jejaring sosial Google+ pada akhir Juni lalu. Namun, pertumbuhan Google+ terbilang paling cepatdibanding jejaring sosial lain, seperti Facebook atau Twitter di masa awal peluncuran.

Lembaga riset comScore menyebutkan, Google+ bahkan telah mencapai 25 juta pengunjung hingga awal Agustus. Selain itu, pengguna Google+ juga tercatat menghabiskan banyak waktu di akun Google+ mereka saat terhubung ke internet.

Seperti dikutip dari laman Mashable, Vice President Analisis Industri comScore, Andrew Lipsman menyebut, angka 25 juta pengunjung telah didapat Google+ sejak 24 Juli lalu. Sekitar 20 juta orang tercatat mengunjungi akun Google+ di bulan Juli. Angka ini belum termasuk pengguna di mobile.

Data comScore juga menyebut, Amerika Serikat menjadi negara terbesar yang mengunjungi Google+, dengan angka melebihi 5 juta. Sedangkan India tercatat di posisi kedua, dengan pengunjung sebanyak 2.847.000, menyusul Inggris Raya (867.000 pengunjung), Kanada (859.000 pengunjung) dan Jerman (706.000) pengunjung.

Laman Mashable menilai, faktor Gmail menjadi faktor penyebab utama pesatnya pertumbuhan Google+. Sejauh ini, Google+ populer di negara tempat Gmail telah meraih popularitasnya terlebih dulu.

“Coba Anda pikir kembali, Gmail menjadi tempat di mana Anda membuka jejaring sosial yang Anda miliki,” ucap Lipsman.

comScore pun kemudian menyebut, pengguna Google+ akan menjadi faktor penting kestabilan jejaring sosial ini. “Semakin bermanfaat, maka akan semakin banyak digunakan. Ketertarikan awal memang penting, namun ini tetap membutuhkan partisipasi reguler dari para penggunanya untuk meningkatkan efek pertumbuhan ini,” tulis comScore.

Walau Google+ berkembang pesat di awal peluncuran, Lipsman mengakui Facebook, Twitter, dan MySpace masih memiliki pengguna lebih besar saat ini.

Cara Gampang Membobol Password Hotspot/WiFi

Setelah menggunakan aplikasi WirelessKeyView yang kami bahas sebelumnya untuk membobol password hotspot, kali ini kami bagikan aplikasi lain untuk menambah perbendaharaan keilmuan. Tools ini tidak kalah ampuh untuk membobol password hotspot di area sekeliling kita.

Ga usah pusing-pusing cukup dengan satu aplikasi yang ukuranya saja sangat kecil. Dengan software ini kita akan gampang menjebol jaringan wireless/hotspot sekitar yang diinginkan.

Adapaun cara untuk menggunakan wzcook ini, kita cukup menjalankan wzcook dan secara otomatis akan mencari jaringan Wireless beserta passwordnya,setelah itu kita tinggal menggunakan access Wireless tsb dgn gratis… Download disini

Selamat Mencoba

Hacking Password WiFi

Banyaknya sinyal WiFi yang berseliweran di rumah2x membuat kami tertarik untuk memposting tulisan ini. Mau ngenet tapi dana terbatas ? Mau internetan gratis tapi kesulitan mencari tahu password wifi ? Mungkin tutorial kali ini bisa memudahkan anda mendapatkan koneksi via wifi yang tersedia.

Hack Password Wifi ini berasal dari sebuah tool sederhana yang akan membantu kita mencari jaringan wifi terdekat sekaligus memberitahu apa password yang digunakan.

Dengan cara ini kita tidak perlu lagi bingung berpindah2 tempat hanya untuk mencari internet gratis. Apalagi kalau di rumah berseliweran sinyal wireless.

Penggunaan software ini sangat mudah dan tidak perlu diinstal terlebih dahulu.

Jika sudah mengunduh tool tersebut, silahkan buka WirelessKeyView dan software ini akan langsung mencari jaringan wifi secara otomatis yang terproteksi password maupun yang free.

Jika sudah siap, silahkan untuk mengcopy langsung password ke wifi yang terproteksi oleh password. Copy kalimat atau angka atau huruf atau simbol lain yang ada di bagian Key (Ascii). Untuk mencoba silahkan download tool dibawah ini.

http://www.ziddu.com/download/15912241/WirelessKeyView_x32.rar.html

atau

http://www.ziddu.com/download/15912508/WirelessKeyView_x64.rar.html

Selamat Mencoba….

Undangan Khitanan Efry


Undangan khitanan ini cukup sederhana karena tidak menggunakan foto namun tetap menjaga tampilan yang elegan nan simpel…

Undangan Khitanan Tampak Depan


Undangan Khitanan Tampak Belakang

D ownload versi CorelDraw x3

RSS Koleksi eBook

  • Radikus Makan Kakus (Bukan Binatang Biasa) - Raditya Dika
    Download eBook Gratis Radikus Makan Kakus (Bukan Binatang Biasa)Tebal : x + 232 halamanUkuran : 11,5cm x 19 cmPengarang : Raditya DikaPenerbit : Gagas MediaISBN : 979-780-166-7Tidak Dianjurkan Untuk Ibu Hamil.Beberapa menit kemudian, kelas dimulai.Kayaknya, ngajar kelas 1 SMP bakalan jadi living hell.Baru masuk aja udah berisik banget."Selamat siang, sa […]
  • Babi Ngesot - Raditya Dika
    Download eBook Gratis Babi Ngesot karya Raditya Dika. Kesurupan Mbak Minah semakin menjadi-jadi. Tubuhnya semakin susah dikendalikan oleh kita bertiga. Lalu tiba-tiba, Ingga berkata, ‘Pencet idungnya, Bang.’‘Apa?’Idungnya,’ Ingga meyakinkan. ‘Aku pernah baca di mana gitu, pencet aja idungnya.’‘Tapi, Ngga?’‘ABANG! PENCET IDUNGNYA SEKARANG!’ Edgar memerintahka […]
  • Cinta Brontosaurus - Raditya Dika
    Download eBook Gratis Cinta Brontosaurus Penulis : Raditya DikaPenerbit : GagasMediaJumlah halaman : 152 + viiiTahun terbit : tahun 2006Cinta brontosaurus merupakan buku kumpulan cerita pribadi dari Raditya Dika, pengarang buku bestseller kambing jantan. Seperti buku kambing jantan, buku ini merupakan kumpulan cerita pribadi atau kisah nyata sang penulis yan […]
  • Kambing Jantan "Sebuah Catatan Pelajar Bodoh" - Raditya Dika
    Download eBook Gratis Kambing Jantan "Sebuah Catatan Pelajar Bodoh"Penulis : Raditya DikaPenerbit : Gagas MediaKota : Jakarta selatanTanggal terbit : Cetakan pertama 2005, Cetakan kedua puluh delapan 2010Jumlah halaman: 237Desain cover : soft coverKategori : Remaja/UmumText Bahasa : IndonesiaKambing Jantan : Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh adal […]
  • 5 cm - Donny Dhirgantoro
    Download eBook Gratis 5 Cm ini bercerita tentang persahabatan lima orang anak manusia yang bernama Arial, Riani, Zafran, Ian, dan Genta. Dimana mereka memiliki obsesi dan impian masing-masing. Lima sahabat ini telah menjalin persahabatan selama tujuh tahun. Suatu ketika mereka merasa jenuh dengan aktivitas yang selalu mereka lakukan bersama-sama.Terbersit id […]
  • Panduan Lengkap Memakai Adobe Photoshop CS - Adi Kusrianto
    Download eBook Gratis Panduan Lengkap Memakai Adobe Photoshop CS karya Adi Kusrianto. Buku ini disertai dengan contoh-contoh yang memotivasi pembaca untuk mencoba dan berkreasi dengan idenya sendiri serta menyajikan penjelasan singkat serta lengkap seluruh komponen yang ada pada Photoshop CS. Adobe Photoshop adalah salah satu produk andalan dari Adobe Corpor […]
  • Gajah Mada : Perang Bubat - Langit Kresna Hariadi
    Download eBook Gratis Gajah Mada 4 : Perang Bubat oleh Langit Kresna Hariadi adalah salah satu tonggak sejarah yang amat penting, kisahnya menjadi pewarna perjalanan Nusantara. (Perang Bubat) Perang yang mengawali kehancuran Majapahit itu menyisakan luka yang amat dalam bagi Jawa dan Sunda. Ini adalah akhir konflik kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh, sekalig […]
  • Gajah Mada - Langit K. Hariadi
    Download eBook Gratis Gajah Mada Setting pada novel ini adalah pemerintahan Jayanegara yang dikudeta oleh Ra Kuti. Ra Kuti adalah sebutan/singkatan dari Rakrian Kuti, sebuah anugerah dari Prabu Jayanegara menjadikan namanya menjadi Rakrian Dharma Putra Winehsuka.Dikisahkan pada jaman ini Gajah Mada masih seorang bekel, sebuah pangkat ketentaraan di bawah sen […]
  • Gajah Mada : Hamukti Palapa - Langit K. Hariadi
    Download eBook Gratis Gajah Mada : Hamukti Palapa - Langit K. Hariadi. Entah ilham dari mana yang merasuki jiwa dan pikiran Gajah Mada hingga ia begitu terobsesi untuk mengikat serakan pulau yang sedemikian banyak dan luas dalam wadah Nusantara di bawah panji¬panji Majapahit Entah keteguhan macam apa yang dimiliki Gajah Mada hingga tanpa keraguan sedikit pun […]
Adsense Indonesia

Twitter Updates

Sudah dilihat

  • 186,154 kali

Masukan alamat email.

Join 8 other followers

Top Rate