Anda Sedang Membaca...
Biografi, Islamic, Tasawuf, Tokoh Dunia

Manakib Jalaludin Rumi

Berbeda dengan tokoh-tokoh sufi lain semasanya, Rumi telah mengambil bentuk sufisme tersendiri. Artinya, tidak seperti kebanyakan sufi-sufi pendahulu dan semasanya yang lebih cenderung untuk mengungkap masalah metafisik dan maqamat, maka pemikiran sufisme Rumi lebih memiliki nuansa tersendiri yang tertuang dalam bentuk sajak, syair dan prosa.

Namun demikian, dengan tidak mengurangi nilai kemistisannya, syair-syair Rumi ternyata memiliki nilai tersendiri yang berkaitan dengan pengalaman batin Rumi. Sehingga dapat dikatakan, bahwa apabila seseorang ingin memahami pribadi Rumi dan perjalanan spiritualnya dalam menapaki sufi, maka seseorang harus dapat memahamkan syair-syair Rumi. Karena syair-syair tersebut tersurat pemikiran dan ajaran Rumi yang sesungguhnya.

Makalah ini mencoba mengulas kembali secara kritis tentang Jalaluddin Rumi, baik dari sisi pribadi dan perjalanan intelektualnya sampai pada ajaran-ajarannya.

Mawlana Jalaludin Rumi Oleh Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani ( Grandson of Mawlana Rumi ) “Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan, Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap
orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna. Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.

Nama lengkap Jalaluddin Rumi adalah Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Husin al-Khathbi al-Bakri. Beliau dilahirkan di Balkhi (Persia) pada tahun 604 H (1217 M) dan meninggal pada tahun 672 H (1273 M). Ketika beliau berusia 4 tahun, ayahnya membawa Rumi ke Asia Kecil yang pada waktu itu lebih dikenal dengan Negeri Rum. Itulah sebabnya, maka dia memakai nama “Rumi”, yang diambil dari nama negeri tempat tinggalnya.[1]

Ayahnya, Baha’ Walad adalah seorang dai terkenal, fakih sekaligus sufi yang menempuh jalan rohani sebagaimana Ahmad al-Ghazali, saudara Muhammad al-Ghazali yang dikenal dengan kesufiannya. Sebagai ahli fiqh sekaligus sufi, Baha’ memiliki pengetahuan eksoterik (yang berkaitan dengan hukum Islam) maupun pengetahuan esoterik (yang berkaitan dengan thariqah / tasawuf).

Berkaitan dengan dimensi eksoterik ini, dia mengajarkan kepada setiap Muslim tentang bagaimana caranya menjalankan kewajiban-kewajiban agama, sedangkan dalam dimensi esoterik, dia mengajarkan bagaimana cara menyucikan diri dan meraih kesempurnaan.[2]

Ia juga mempelajari dengan tekun kitab suci al-Qur’an baik pembacaan, penjelasan, ataupun penafsirannya. Penelusuran keilmuannya tidak berhenti sampai disana, Ia juga mempelajari hadist (satu cabang ilmu yang mengkaji ucapan dan perbuatan Rasul Muhammad serta para sahabat). Pengetahuannya yang luas dalam kajian keIslaman ditunjukkan dalam karya-karyanya yang mendalam.

Balkhi, pada tahun-tahun awal abad ke-13 di samping menjadi pusat pembelajaran yang maju juga merupakan pusat perdagangan. Tetapi keadaan politik memaksa terjadinya perubahan besar-besaran seiring dengan terjadinya penyerbuan besar-besaran tentara Mongol dari Asia Dalam. Tepatnya pada tahun 1220 Balkhi diserbu dan dimusnahkan hingga runtuh oleh kaum Mongol. Tapi penghancuran Balkhi oleh tentara Mongol tidak berpengaruh pada Baha’ Walad dan keluarganya. Mereka telah pindah dari Balkhi satu atau dua tahun sebelum penghancuran tersebut. Dalam pengelanaannya keluarga itu melewati Bagdad ke Mekah, kemudian ke Syria dan akhirnya sampai di Anatolia Tengah. Keluarga itu kemudian menetap di Laranda (Karaman, saat ini Turki). Di sana Jalaluddin menikahi Jauhar Khatun, seorang gadis muda berasal dari Samarkand.

Pada tahun 1228, atas undangan Pangeran Ala’uddin Kay-Qubad, Baha’ Walad memboyong keluarganya ke Konya Ibukota Kesultanan Rum Seljuq yang sedang berkembang pesat, dan pada waktu itu masih jauh dari jangkauan tentara Mongol. Di kota itu Baha’ Walad menjadi pengajar sebagaimana yang ia lakukan di Balkhi. Pada Januari 1231, Baha’ Walad yang mendapat julukan “Sultan Kaum Terpelajar”, wafat dan meninggalkan Jalaluddin sebagai penggantinya.[3]

Ketika Rumi mengambil kedudukan ayahnya, dia tampak sudah menguasai disiplin ilmu rohani dan ilmu-ilmu esoterik sufisme. Sejak itulah maka dia seakan-akan sulit menghindarkan diri dari sufisme, bahkan senantiasa terdorong kearahnya. Namun demikian, secara formal dia baru menjalani kehidupan seorang sufi ketika Burhanuddin Tirmidzi, murid kesayangan ayahnya datang ke Konya pada tahun 1232 hingga wafatnya tahun 1240. di bawah bimbingannya Rumi menjalani disiplin-disiplin ilmu kerohanian.

Rumi menjadi berubah ketika Syamsuddin dari Tabriz datang ke Konya pada tahun 1244. Syamsuddin Tabrizi memiliki pengaruh yang begitu besar terhadap pribadi Rumi. Dialah yang menyebabkan Rumi berubah dari seorang ahli hukum menjadi seorang pecinta yang mabuk. Sehingga ada yang mengatakan bahwa tanpa kehadiran Syams, maka tidak akan pernah ada Rumi.

Selama kurang lebih satu atau dua tahun, Syams senantiasa mendampingi Rumi. Sehingga ketika tiba-tiba Syams meninggalkan Konya, maka Rumi menjadi cemas.[4]

Hilangnya Syams dan kerinduan yang timbul di dalam jiwanya pada kekasih spiritual menjadi pemicu pada diri Rumi untuk menggubah dan melagukan hasratnya yang merindu dalam lirik puisi Persia. Akhirnya Rumi mengetahui bahwa Syamsuddin pergi ke Damaskus, lalu ia mengutus putra tertuanya, Sultan Walad untuk membawa Syams kembali ke Konya. Syams akhirnya menempati rumah Rumi dan menikahi gadis muda pelayan rumah. Dia menetap di sana hingga tahun 1248, sebelum akhirnya menghilang sekali lagi dan tidak pernah ditemukan kembali. Tuduhan pembunuhan oleh anak kedua Rumi yang dilontarkan Aflaki, salah seorang penulis awal biografi, saat ini banyak diakui kebenarannya.

Rumi amat terkejut oleh perpisahan kedua ini hingga kemudian dia memutuskan untuk pergi sendiri ke Syria’ satu atau dua kali, untuk mencari sahabatnya. Pada akhirnya, dia menyadari bahwa Syams tidak akan ditemukan dan dia memutuskan untuk lebih mencari Syams “yang nyata” di dalam dirinya sendiri. Proses pemenuhan perkenalan antara pecinta dan kekasihnya telah terpenuhi, Jalaluddin dan Syamsuddin bukan merupakan dua jiwa yang terpisah. Mereka satu selamanya.

Setelah menjalani kehidupan mengajar dan memenuhi kebutuhan pengikut dan sahabatnya Maulana Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada 17 Desember 1273.[5]

Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi juga seorang tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya. Rumi adalah guru nomor satu Thariqat Maulawiah, sebuah thariqat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Thariqat Maulawiah pernah berpengaruh
besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman sekitar tahun l648.
Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Di zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu. Bagi mereka kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu
yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, dengan cepat mereka ingkari dan tidak diakui.
Padahal menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan Iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam
agama samawi, bisa menjadi goyah.
Rumi mengatakan, “Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu’tazilah. Mereka merupakan
para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya.”

Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. “Padahal, yang
lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?” tegas Rumi.

PENGARUH TABRIZ
Fariduddin Attar, salah seorang ulama dan tokoh sufi, ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak akan menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, ramalan Fariduddin Attar itu tidak meleset.
Rumi, Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207. Mawlana Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi.
Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).
Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama. Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan
mereka pun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru berusia lima tahun. Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup
berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama
yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.
Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Beliau baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar di perguruan tersebut. Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, beliau juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu banyak tokoh ulama yang berkumpul di Konya. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.
Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika beliau sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, beliau juga memberi fatwa dan tumpuan
ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika beliau berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi dari kota Tabriz.
Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba-tiba seorang lelaki asing–yakni Syamsi Tabriz–ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Beliau tidak mampu menjawab.
Akhirnya Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, beliau mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi.
Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”
Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga beliau menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan
menyanjung gurunya itu, beliau tulis syair-syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan Syams Tabriz. Beliau bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat Syams Tabriz. Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syaikh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, selama 15 tahun terakhir masa hidupnya beliau berhasil menghasilkan himpunan syair
yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain.
Bahkan Masnavi sering disebut Qur’an Persia. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dengan jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang metafisika), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya) .
Bersama Syaikh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan Thariqat Maulawiyah atau Jalaliyah. Thariqat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (para Darwisy yang berputar-putar) . Nama itu muncul karenapara penganut thariqat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.

Karya- karya Jalaluddin Rumi

Rumi tidak “menulis “ buku dengan cara konvensional sebagaimana orang lain melakukannya. Prosa dan puisi Rumi pada saat ini disamping berasal dari karya-karya yang dicatat oleh pengikutnya ketika Rumi menyampaikannya secara lisan dan hasil pendiktean yang kemudian dia periksa lagi seperti dalam Matsnawi dan Diwan, juga karya-karya yang ditulis oleh para pengikutnya dari ingatan mereka atau dari catatan-catatan Rumi sendiri setelah kematiannya. Karya-karya seperti itulah yang terangkum dalam buku Signs of the Unseen (fihi ma fihi).

Karya utama Rumi adalah berjudul Masnavi-i ma’navi, yang dalam edisi Inggris berjudulMasnavi of Intrinsic Meaning. Karya ini terdiri dari enam jilid buku yang berisi 25.000 bait puisi. Karya ini digubah sebagai persembahan untuk memenuhi permintaan orang yang menjadi sumber inspirasi Rumi yang ketiga, Husamuddin Chelebi. Rumi menggunakan berbagai jenis cara pengungkapan sebagai medium ekspresinya. Dalam karyanya terdapat cerita, anekdot, dan lain-lain. Tapi semua isinya menyentuh aspek pembelajaran dan pemikiran spiritual. Adalah suatu yang wajar jika kita mengatakan bahwa ketika karya Rumi digubah, tidak ada kitab di dalam dunia Islam, kecuali al-Qur’an, yang begitu dihormati dan dirujuk oleh kaum Muslim sebagaimana Matsnawikarya Rumi.

Karya utama Rumi yamg lain ialah kumpulan puisi pendeknya yang luar biasa besar, Divan-i Syams-i Tabriz, yang terdiri dari ghazal, kuatrin (sajak empat seuntai) dan lain-lain, dalam bentuk yang tidak konvensional. Ciri khas Rumi yang secara sempurna tergabung dengan alter egonya dapat kita lihat dari baris-baris terakhir ghazalnya, suatu bagian yang dijadikan tempat oleh aturan konvensional di dalam puisi Persia untuk menyisipkan nama samaran sang penyair, sementara Rumi menempatkan nama kekasihnya Syams dari Tabriz.

Untuk melengkapi karya Matsnawi dan Diwan, kami menambahkan 144 surat Maulana Jalaluddin Rumi yang telah dikumpulkan dan dipelihara oleh pengikutnya. Surat-surat itu kebanyakan ditujukan kepada Parwana Mu’inuddin atau pejabat resmi lain dan pejabat-pejabat diKonya. Surat-surat itu ditulis untuk kepentingan mereka yang membutuhkan bantuan.

Dan untuk menambah catatan ceramah Rumi, di dalam Signs of Unseen (fihi ma fihi), kami sertakan kumpulan ceramah yang terpelihara di dalam Majalis-i sab’a-i Maulana (Ceramah dari Tujuh Pembahasan Maulana).

Fihi ma fihi merupakan kumpulan kuliah, wacana, perbincangan, dan komentar Rumi pada pelbagai masalah. Kebanyakan dari tujuh puluh satu bagian yang dimuat di dalam buku ini adalah bagian-bagian yang terlepas. Beberapa lagi berasal dari yang sejenis dengan “pembahasan” (majelis) guru sufi, atau pertemuan tak resmi dengan murid dan pengikutnya, selama itu sang guru menguraikan satu pokok bahasan atau lebih.

Meskipun banyak, atau bahkan semuanya, dari bagian yang barangkali telah ditulis Rumi selama masa kehidupan Rumi, hampir dapat dipastikan bahwa keseluruhan karya ini tidak selesai dibuat hingga Rumi wafat. Bentuk buku itu merupakan kenang-kenangan dari kumpulan wacana-wacana ayahnya, yang umumnya cenderung lebih merupakan pandangan terhadap suatu gagasan (seperti bagian 34 kitab Fihi ma fihi).[6]

PEMIKIRAN RUMI

1. Kesatuan Eksistensi

Cara pandang sufi terhadap eksistensi agak berbeda dari kaum teologi (mutakallimun). Bagi kaum sufi, “Eksistensi” (wujud) berarti “kenyataan / kebenaran” (haqiqah) dan tiada yang hakiki kecuali kenyataan / kebenaran tertinggi (ultimate realita, al-Haqq).

Rumi menyajikan pandangannya sendiri dalam kaitannya dengan penafsiran ungkapan terkenal al-Hallaj, “Anal al-Haqq”; (aku adalah kebenaran).

Orang-orang mengira ungkapan anal al-haqq adalah ungkapan kesombongan, padahal mengatakan ana al-Abd, aku hamba Allah, itulah yang sebenarnya merupakan ungkapan kesombongan, Anal Al Haqq adalah ekspresi kerendahan hati yang besar. Manusia yang mengatakan Ana al-abd mengakui dua eksistensi, eksistensinya dan Tuhan, sementara orang yang mengatakan anal Al-Haqq adalah ekspresi kerendahan hati yang besar. Manusia yang mengatakan anal al-‘abd mengakui dua eksistensi. Eksistensinya dan Tuhan, sementara orang yang mengatakananal al-haqq telah meniadakan dan telah menyerahkan dirinya seraya berkata “Akulah Tuhan”, yakni aku tidak ada, Dia-lah segalanya: tiada sesuatu kecuali Tuhan. Inilah kerendahan hati yang luar biasa besarnya.

Ayat al-qur’an (QS. 75:3) mengungkap lebih jauh tentang konsepsi Rumi mengenai kesatuan eksistensi. “Dia yang pertama dan yang terakhir” berarti bahwa kenyataan / kebenaran tertinggi (al-Haqq) adalah prinsip segala makhluk dan mereka pasti kembali, sementara “Dia yang lahir, Dia yang Batin”, mengisyaratkan imanensi dan transendensi-Nya.

2. Cinta Universal

Dalam pandangan Rumi, Tuhan adalah pencipta semesta yang menciptakannya dari ketidakmaujudan (‘adam non-existence). Namun demikian, ketidakmaujudan itu bukanlah ketiadaan murni (nothingness). Akan tetapi ketidakmaujudan mengandung kenyataan dan potensial yang aktualisasinya menjadi kemaujudan (eksistensi) bergantung sepenuhnya pada kemuraan Tuhan (barakah).

Tentang bagaimana semesta ini diciptakan, Rumi berkeyakinan bahwa penciptaan adalah manifestasi diri Tuhan (izhar). Untuk mendukung pandangan ini, Rumi layaknya sufi lainnya, mengutip hadits qudsi terkenal yang mengatakan bahwa Tuhan adalah kekayaan tersembunyi; Dia menciptakan dunia ini agar bisa dikenali.

Sekarang mari kita lihat bagaimana semesta dihubungkan oleh Rumi dengan cinta. Seperti telah kita lihat, hal pertama yang diciptakan Tuhan adalah cinta, prioritas cinta ketimbang makhluk yang lain terbukti karena cintalah yang memotivasi Tuhan untuk menciptakan semesta. Dengan begitu, Rumi menganggap cinta sebagai kekuatan kreatif paling dasariah, yang menyusup ke dalam setiap makhluk dan menghidupkan mereka.

Sebagai cermin Tuhan, semesta merefleksikan sifat-sifat-Nya sesuai dengan tingkatan eksistensi yang terdapat di dalamnya. Semakin tinggi tingkatan yang dicapainya, semakin banyak sifat Tuhan yang mereka refleksikan.[7]

3. Cinta Ilahi (‘Isyq)

Cinta (‘Isyq, mahabbah), menurut Rumi, bukan hanya milik manusia dan makhluk hidup lainnya, tapi juga semesta. Cinta kepada Tuhan telah menciptakan di dalamnya kerinduan untuk kembali dan bersatu.

Kadang-kadang Rumi menggambarkan cinta sebagai “astrolabe rahasia-rahasia Tuhan” yang menjadi petunjuk bagi manusia untuk mencari kekasihnya. Karena itu, cinta membimbing manusia kepada-Nya dan menjaganya dari gangguan orang lain. “Cinta”, kata Rumi, adalah “astrolabe misteri-misteri Tuhan”. Kapanpun cinta, entah dari sisi (duniawi) atau dari sisi (langit)nya, namun pada akhirnya ia membawa kita ke sana.

Dengan pengaruhnya yang luar biasa pada jiwa manusia, cinta juga dapat mempercepat perjalanan manusia menuju Tuhan. Jadi cinta Ilahi dapat menjauhkan manusia dari syirik (penyekutuan Tuhan) dan mengangkat-Nya ke tingkatan yang tertinggi dari tauhid.[8]

4. Pengetahuan Sejati (al-Ma’rifah)

Konsepsi Rumi tentang pengetahuan sejati (ma’rifah atau gnosis) dimulai oleh fakta bahwa “Tuhan mengajarkan Adam semua nama”. Nama-nama ini merupakan prototype semua pengetahuan sejati dan langsung berasal dari Tuhan. Menurut Rumi “kebijaksanaan Tuhan menciptakan dunia agar segala hal yang ada dalam pengetahuan-Nya tertangkap”. Demikianlah, tiga fundamental manusia untuk memahami seluruh kebenaran sejati yang bersembunyi dibalik pikiran manusia melalui pemahaman dunia fenomena.

Disini ada dua hal yang penting untuk di catat; pertama, ma’rifah sepenuhnya bergantung pada kehendak dan kemurahan Tuhan, dan kedua, ia bukanlah hasil latihan mental. Persepsi indra dan akal penting sebagai sarana yang membimbing kita hanya sampai pada gerbang pengetahuan sejati, dan sisanya bergantung pada rahmat Tuhan (barakah). Atas dasar ini, mereka yang hanya menggunakan persepsi indra atau penalaran diskursif, akan sia-sia mencari kebenaran.[9]

5. Wahdatul Adyan (kesatuan transcendental agama-agama

Seperti sufi lainnya, Rumi percaya pada kesatuan transcendental agama-agama dan memandang kontroversi diantara pada penganut agama-agama tersebut hanya terjadi karena mereka melihat bentuk luar agama dan bukan pada esensinya. Mereka terlalu terikat pada cara pandang formal dan tradisional yang memandang agama-agama lain terpisah dan akibatnya, tidak mengizinkan adanya visi tentang kesatuan semua agama. Dalam kisah yang terkenal tentang gajah di istana yang gelap, Rumi berusaha menunjukkan betapa orang-orang yang berpikiran sempit gagal menjelaskan hakikat agama-agama. Upaya mereka tidak akan pernah berhasil sebelum mereka memahaminya secara komprehensif.

Karena itu, jelas bahwa sepanjang kita tidak mampu menyaksikan hakikat agama secara komprehensif dan hanya melihatnya dengan sempit pertentangan antara agama-agama tidak akan berakhir. Solusinya hanya akan diperoleh, menurut Rumi apabila kita mampu melihat kesatuan transcendental dari tujuan-tujuannya yang tertinggi.[10]

ANALISIS

Rumi sangat terkenal bukan hanya saja di timur, tetapi juga di barat. Beberapa orientalis barat menyebutnya sebagai “penyair sufi paling hebat yang pernah dilahirkan di Persia”. Penyair mistik Islam yang terbesar, dan bahkan penyair mistik paling agung sepanjang masa.

Kita bisa mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa tidak seorangpun penyair mistik dan penyair Islam lain yang dikenal lebih baik daripada Rumi di barat. Di indonesia tidak cukup dikenal, kecuali di lingkaran-lingkaran kecil kaum penyair. Namun demikian dalam dunia intelektual Islam, sayap-sayap bisa kita dengarkan gaung kehebatannya, baik melalui karya-karya maupun puisi-puisinya.

Ditilik dari keluasan wawasan dan ketajaman pandangan intelektualnya dari tema-tema universal yang ia hadirkan dalam setiap bait karyanya atau dari ekspresi ide-idenya dalam bahasa puitis yang dipenuhi simbolisme dan alegori, tidak diragukan lagi jika Rumi adalah seorang jenius dengan pemikiran yang brilliant dan hati yang besar. Melalui pandangannya yang tajam, ia sanggup mengantisipasi sejumlah gagasan yang muncul berabad-abad kemudian. Rumi mengembangkan gagasan yang mendorong manusia untuk bekerja keras dalam mengemban tugas beratnya sebagai wakil Tuhan (khalifah) di bumi. Dengan demikian ia menyanggah pandangan yang keliru bahwa para sufi bersifat fatalistic.[11]

Hal yang penting yang dilupakan pada Rumi adalah bagaimana memahami pribadi Rumi secara utuh. Hal ini terjadi karena sampai dewasa ini orang-orang lebih cenderung melihat pada aspek pemikiran melalui hasil syair-syair Rumi dan tidak melihat pada aspek pribadi Rumi. Dengan kata lain, mengapa ajaran-ajaran yang termuat dalam syair-syair Rumi dapat diterima banyak orang pada massanya. Padahal ini berbeda dengan bentuk sufisme yang berkembang pada massanya. Padahal ini berbeda dengan bentuk sufisme yang berkembang pada saat itu yang lebih menonjolkan aspekmaqamat sebagai suatu jalan menuju Ilahi. Sehingga wajar apabila Schimmel berargumen bahwa “basis, pusat dan tujuan pemikiran Rumi adalah Tuhan Yang Esa Tak Terbatas yang esensinya tidak pernah akan dicapai”.[12]

WAFATNYA MAWLANA RUMI
Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya.
Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya
tiba-tiba dilanda kecemasan, karena mendengar kabar
bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, tengah menderita
sakit keras. Meskipun demikian, pikiran Rumi masih
menampakkan kejernihannya.
Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo’akan,
“Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu
dengan kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika
engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan
bermakna baik. Tapi kematian ada juga yang kafir dan
pahit.”
Pada tanggal 5 Jumadil Akhir 672 H atau 17 Desember
1273 dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke
Rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan,
penduduk setempat berdesak-desakan ingin mengantarkan
kepulangannya. Malam wafatnya beliau dikenal sebagai
Sebul Arus (Malam Penyatuan). Sampai sekarang para
pengikut Thariqat Maulawiyah masih memperingati
tanggal itu sebagai hari wafatnya beliau.
“SAMA”, Tarian Darwis yang Berputar
Suatu saat Rumi tengah tenggelam dalam kemabukannya
dalam tarian “Sama” ketika itu seorang sahabatnya
memainkan biola dan ney (seruling), beliau mengatakan,
“Seperti juga ketika salat kita berbicara dengan
Tuhan, maka dalam keadaan extase para darwis juga
berdialog dengan Tuhannya melalui cinta. Musik Sama
yang merupakan bagian salawat atas baginda Nabi
Sallallahu alaihi wasalam adalah merupakan wujud musik
cinta demi cinta Nabi saw dan pengetahuanNya.
Rumi mengatakan bahwa ada sebuah rahasia tersembunyi
dalam Musik dan Sama, dimana musik merupakan gerbang
menuju keabadian dan Sama adalah seperti electron yang
mengelilingi intinya bertawaf menuju sang Maha
Pencipta. Semasa Rumi hidup tarian “Sama” sering
dilakukan secara spontan disertai jamuan makanan dan
minuman. Rumi bersama teman darwisnya selepas solat
Isa sering melakukan tarian sama dijalan-jalan kota
Konya.
Terdapat beberapa puisi dalam Matsnawi yang memuji
Sama dan perasaan harmonis alami yang muncul dari
tarian suci ini. Dalam bab ketiga Matsnawi, Rumi
menuliskan puisi tentang kefanaan dalam Sama, “ketika
gendang ditabuh seketika itu perasaan extase merasuk
bagai buih-buih yang meleleh dari debur ombak laut”.
Tarian Sakral Sama dari tariqah Mevlevi Haqqani atau
Tariqah Mawlawiyah ini masih dilakukan saat ini di
Lefke, Cyprus Turki dibawah bimbingan Mawlana Syaikh
Nazim Adil al-Haqqani. Ajaran Sufi Mawlana Syaikh
Nazim dan mawlana Syaikh Hisyam juga merambah
keberbagai kota di Amerika maupun Eropa, sehingga
tarian Whirling Dervishes ini juga dilakukan di banyak
kota-kota di Amerika, Eropa dan Asia di bawah
bimbingan Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani.
Tarian Sama ini sebagai tiruan dari keteraturan alam
raya yang diungkap melalui perputaran planet-planet.
Perayaan Sama dari tariqah Mevlevi dilakukan dalam
situasi yang sangat sakral dan ditata dalam penataan
khusus pada abad ke tujuh belas. Perayaan ini untuk
menghormati wafatnya Rumi, suatu peristiwa yang Rumi
dambakan dan ia lukisakna dalam istilah-istilah yang
menyenangkan.
Para Anggota Tariqah Mevlevi sekarang belajar
menarikan tarian ini dengan bimbingan Mursyidnya.
Tarian ini dalam bentuknya sekarang dimulai dengan
seorang peniup suling yang memainkan Ney, seruling
kayu. Para penari masuk mengenakan pakaian putih yang
sebagai simbol kain kafan, dan jubah hitam besar
sebagai symbol alam kubur dan topi panjang merah atau
abu-abu yang menandakan batu nisan.
Akhirnya seorang Syaikh masuk paling akhir dan
menghormat para Darwish lainnya. Mereka kemudian balas
menghormati. Ketika Syaikh duduk dialas karpet merah
menyala yang menyimbolkan matahari senja merah tua
yang mengacu pada keindahan langit senja sewaktu Rumi
wafat. Syaikh mulai bersalawat untuk Rasulullah saw
yang ditulis oleh Rumi disertai iringan musik,
gendang, marawis dan seruling ney.
Peniup seruling dan penabuh gendang memulai musiknya
maka para darwis memulai dengan tiga putaran secara
perlahan yang merupakaan simbolisasi bagi tiga tahapan
yang membawa manusia menemui Tuhannya. Pada puatran
ketiga Syaikh kembali duduk dan para penari melepas
jubah hitamnya dengan gerakan yang menyimbulkan
kuburan untuk mengalami ‘ mati sebelum mati”,
kelahiran kedua.
Ketika Syaikh mengijinkan para penari menari, mereka
mulai dengan gerakan perlahan memutar seperti putaran
tawaf dan putaran planet-planet mengelilingi matahari.
Ketika tarian hamper usai maka syaikh berdiri dan
alunan musik dipercepat. Proses ini diakhiri dengan
musik penutup danpembacaan ayat suci Al-Quran.
Rombongan Penari Darwis, secara teratur menampilkan
Sama di auditorium umum di Eropa dan Amerika Serikat.
Sekalipun beberapa gerakan tarian ini pelan dan terasa
lambat tetapi para pemirsa mengatakan penampilan ini
sangat magis dan menawan. Kedalaman konsentrasi, atau
perasaan dzawq dan ketulusan para darwis menjadikan
gerakan mereka begitu menghipnotis. Pada akhir
penampilan para hadirin diminta untuk tidak bertepuk
tangan karena “Sama” adalah sebuah ritual spiritual
bukan sebuah pertunjukan seni.
Pada abad ke 17, Tariqah Mevlevi atau Mawlawiyah
dikendalikan oleh kerajaan Utsmaniyah. Meskipun
Tariqah Mawlawiyah kehilangan sebagian besar
kebebasannya ketika berada dibawah dominasi
Ustmaniyah, tetapi perlindungan Sang Raja menungkinkan
Tariqah Mawlawi menyebar luas keberbagai daerah dan
memperkenalkan kepada banyak orang tentang tatanan
musik dan tradisi puisi yang unik dan indah. Pada Abad
ke 18, Salim III seorang Sultan Utsmaniyah menjadi
anggota Tariqah Mawlawiyah dan kemudian dia
menciptakan musik untuk upacara-upacara Mawlawi.
Selama abad ke 19 , Mawlawiyah merupakan salah satu
dari sekitar Sembilan belas aliran sufi di Turtki dan
sekitar tigapuluh lima kelompok semacam itu dikerajaan
Utsmaniyah. Karena perlindungan dari raja mereka,
Mawlawi menjadi kelompok yang paling berpengarh
diseluruh kerajaan dan prestasi cultural mereka
dianggap sangat murni. Kelompok itu menjadi terkenal
di barat., Di Eropa dan Amerika pertunjukkan keliling
mereka menyita perhatian public. Selama abad 19,
sebuah panggung pertunjukkan yang didirikan di Turki
menarik perhatian banyak kelompok wisatawan Eropa yang
dating ke Turki.
Pada tahun 1925, Tariqah Mawlawi dipaksa membubarkan
diri ditanah kelahiran mereka Turki, setelah Kemal
Ataturk pendiri modernisasi Turki melarang semua
kelompok darwis lengkap dengan upacara serta
pertunjukkan mereka. Pada saat itu makam Rumi di Konya
diambil alih pemerintah dan diubah menjadi museum
Negara.
Motivasi utama Atatutrk adalah memutuskan hubungan
Turki dengan masa pertengahan guna mengintegrasikan
Turki dengan dunia modern seperti demokrasi ala barat.
Bagi Ataturk tariqah sufi menjadi ancaman bagi
modernisasi Turki. Pada saat itulah Syaikh Nazim
ق mulai menyebarkan bimbingan spiritual dan
mengajar agama Islam di Siprus, Turki.
Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani
Banyak murid yang mendatangi Mawlana Syaikh Nazim dan
menerima Thariqat Naqsybandi Haqqani. Selain itu
beliau adalah pemegang otoritas Mursyid tujuh Tariqah
Sufi besar lainnya, termasuk Mevlevi Haqqani atau
Mawlawiyah, Qodiriah, Syadziliyah, Chisty. Namun
sayang, waktu itu semua agama dilarang di Turki dan
karena beliau berada di dalam komunitas orang-orang
Turki di Siprus, agama pun dilarang di sana. Bahkan
mengumandangkan azan pun tak diperbolehkan.
Langkah Syaikh Nazim yang pertama ketika itu adalah
menuju masjid di tempat kelahirannya dan
mengumandangkan azan di sana, segera beliau dimasukkan
penjara selama seminggu. Begitu dibebaskan, Syaikh
Nazim ق pergi menuju masjid besar di Nikosia dan
melakukan azan di menaranya. Hal itu membuat para
pejabat marah dan beliau dituntut atas pelanggaran
hukum.
Sambil menunggu sidang, Syaikh Nazim ق terus
mengumandangkan azan di menara-menara masjid di
seluruh Nikosia. Sehingga tuntutannya pun terus
bertambah, ada 114 kasus yang menunggu beliau.
Pengacara menasihati beliau agar berhenti melakukan
azan, namun Syaikh Nazim ق mengatakan, “ Tidak,
aku tidak bisa mengehntikannya. Orang-orang harus
mendengar panggilan azan untuk shalat.”
Ketika hari persidangan tiba, Mawlana Syaikh Nazim
didakwa atas 114 kasus mngumandangkan azan diseluruh
Cyprus. Jika tuntutan 114 kasus itu terbukti, maka
beliau bisa dihukum 100 tahun penjara. Tetapi pada
hari yang sama hasil pemilu diumumkan di Turki.
Seorang laki-laki bernama Adnan Menderes dicalonkan
untuk berkuasa. Langkah pertamanya ketika terpilih
menjadi Presiden adalah membuka seluruh masjid-masjid
dan mengizinkan azan dikumandangkan dalam bahasa Arab.
Inilah keajaiban yang diberikan Allah swt kepada
Mawlana Syaikh Nazim.
Hingga saat ini makam Rumi di Konya tetap terpelihara
dan dikelola oleh pemerintah Turki sebagai tempat
wisata. Meskipun demikian pengunjung yang datang
kesana yang terbanyak adalah para peziarah dan bukan
wisatawan. Melalui sebuah kesepakatan pemerintah
Turki, pada tahun 1953 akhirnya menyetujui tarian
“Sama” Tariqah Mawlawi dipeertontonkan lagi di Konya
dengan syarat pertunjukan tersebut bersifat cultural
untuk para wisatawan.
Rombongan Darwis juga diijinkan untuk berkelana secara
Internasional. Meskipun demikian secara keseluruhan
berbagai aspek sufisme tetap menjadi praktek yang
illegal di Turki dan para sufi banyak diburu sejak
Ataturk melarang agama mereka.
Wa min Allah at Tawfiq
————————————-
Maulana Jalaluddin Rumi, Menari di Depan Tuhan
“AKAN tiba saatnya, ketika Konya menjadi semarak, dan
makam kita tegak di jantung kota. Gelombang demi
gelombang khalayak menjenguk mousoleum kita,
menggemakan ucapan-ucapan kita.”
Itulah ucapan Jalaluddin Rumi pada putranya, Sultan
Walad, di suatu pagi. Dan waktu kemudian berlayar,
melintasi tahun dan abad. Konya seakan terlelap dalam
debu sejarah. “Tetapi, kota Anatolia Tengah ini tetap
berdiri sebagai saksi kebenaran ucapan Rumi,” tulis
Talat Said Halman, peneliti karya-karya mistik Rumi.
Kenyataannya memang demikian. Lebih dari 7 abad, Rumi
bak bayangan yang abadi mengawal Konya, terutama untuk
pada pengikutnya, the whirling dervishes, para darwis
yang menari. Setiap tahun, dari tanggal 2-17 Desember,
jutaan peziarah menyemut menuju Konya. Dari delapan
penjuru angin mereka berarak untuk memperingati
kematian Rumi, 727 tahun silam.
Siapakah sesungguhnya makhluk ini, yang telah
menegakkan sebuah pilar di tengah khazanah keagamaan
Islam dan silang sengketa paham? “Dialah penyair
mistik terbesar sepanjang zaman,” kata orientalis
Inggris Reynold A Nicholson. “Ia bukan nabi, tetapi ia
mampu menulis kitab suci,” seru Jami, penyair Persia
Klasik, tentang karya Rumi,Matsnawi.
Gandhi pernah mengutip kata-katanya. Rembrandt
mengabadikannya dikanvas, Muhammad Iqbal, filsuf dan
penyair Pakistan, sekali waktu pernah berdendang,
“Maulana mengubah tanah menjadi madu…. Aku mabuk
oleh anggurnya; aku hidup dari napasnya.” Bahkan, Paus
Yohanes XXIII, pada 1958 menuliskan pesan khusus:
“Atas nama dunia Katolik, saya menundukkan kepala
penuh hormat mengenang Rumi.”
Besar dalam kembara
Jalaluddin dilahirkan 30 September 1207 di Balkh, kini
wilayah Afganistan. Ia Putra Bahauddin Walad, ulama
dan mistikus termasyhur, yang diusir dari kota Balkh
tatkala ia berumur 12 tahun. Pengusiran itu buntut
perbedaan pendapat antara Sultan dan Walad.
Keluarga ini kemudian tinggal di Aleppo (Damaskus),
dan di situ kebeliaan Jalaluddin diisi oleh guru-guru
bahasa Arab yang tersohor. Tak lama di Damakus,
keluarga ini pindah ke Laranda, kota di Anatolia
Tengah, atas permintaan Sultan Seljuk Alauddin
Kaykobad.
Konon, Kaykobad membujuk dalam sebuah surat kepada
Walad, “Kendati saya tak pernah menundukkan kepala
kepada seorang pun, saya siap menjadi pelayan dan
pengikut setia Anda.” Di kota ini ibu Jalaluddin,
Mu’min Khatum, meninggal dunia. Tak lama kemudian,
dalam usia 18 tahun, Jalaluddin menikah. 1226, putra
pertama Jalaluddin, Sultan Walad, lahir. Setahun
kemudian, keluarga ini pindah ke Konya, 100 Km dari
Laranda. Di sini, Bahauddin Walad mengajar di
madrasah. 1229, anak kedua Jalaluddin, Alauddin,
lahir. Dua tahun kemudian, dalam usia 82 tahun,
Bahaudin Walad meninggal dunia.
Era baru pun dialami Jalaluddin. Dia menggantikan
Walad, dan mengajarkan ilmu-ilmu ketuhanan
tradisional, tanpa menyentuh mistik. Setahun setelah
kematian ayahnya, suatu pagi, madrasahnya kedatangan
tamu, Burhannuddin Muhaqiq, yang ternyata murid
terkasih Walad. Dan ketika menyadari sang guru telah
tiada, Muhaqiq mewariskan ilmunya pada Jalaluddin.
Burhanuddin pun menggembleng muridnya dengan
latihan tasawuf yang telah dimatangkan selama 4 abad
terakhir oleh para sufi, dan beberapa kali meminta dia
ke Damakus untuk menambah lmu. 8 tahun menggembleng,
1240, Burhanuddin kembali ke Kayseri. Jalaluddin Rumi
pun menggembleng diri sendiri.
Cinta adalah menari
Tahun 1244, saat berusia 37 tahun, Jalaluddin sudah
berada di atas semua ulama di Konya. Ilmu yang dia
timba dari kitab-kitab Persia, Arab, Turki, Yunani dan
Ibrani, membuat dia nyaris ensiklopedis. Gelar Maulana
Rumi (Guru bangsa Rum) pun dia raih. Tapi, di sebuah
senja Oktober, sehabis pulang dari madrasah,
seseorang yang tak dia kenal, menjegat langkahnya, dan
menanyakan satu hal. Mendengar pertanyaan itu, Rumi
langsung pingsan!
Sebuah riwayat mengatakan, orang tak dikenal itu
bertanya, “Siapa yang lebih agung, Muhammad Rasulullah
yang berdoa, ‘Kami tak mengenal-Mu seperti seharusnya’
atau seorang sufi Persia, Bayazid Bisthami yang
berkata, ‘Subhani, mahasuci diriku, betapa agungnya
kekuasaanku’. Pertanyaan mistikus Syamsuddin Tabriz
itu mengubah hidup Rumi. Dia kemudian tak lagi
terpisahkan dari Syams. Dan di bawah pengaruh Syams,
ia menjalani periode mistik yang nyala, penuh gairah,
tanpa batas, dan kini, mulai menyukai musik. Mereka
menghabiskan hari bersama-sama, dan menurut riwayat,
selama berbulan-bulan mereka dapat bertahan hidup
tanpa kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, khusuk
menuju Cinta Ilahiah.
Tapi hal ini tak lama. Kecemburuan warga Konya,
membuat Syams pergi. Dan saat Syams kembali, warga
membunuhnya. Rumi kehilangan, kehilangan terbesar yang
dia gambarkan seperti kehidupan kehilangan mentari.
Tapi, suatu pagi, seorang pandai besi membuat
Jalaluddin menari. Pukulan penempa besi itu,
Shalahuddin, membuat dia ekstase, dan tanpa sadar
mengucapkan puisi-puisi mistis, yang berisi ketakjuban pada pengalaman syatahat. Rumi pun kemudian bersabahat
dengan Shalahuddin, yang kemudian menggantikan posisi
Syams. Dan era menari pun dimulai Rumi, menari sambil
memadahkan syair-syair cinta Ilahi. “Tarian para
darwis itulah yang kemudian menjadi semacam bentuk
ratapan Rumi atas kehilangan Syams,” jelas Talat.
Sampai meninggalnya, 17 Desember 1273, Rumi tak pernah
berhenti menari, kerana dia tak pernah berhenti
mencintai Allah. Tarian itu juga yang membuat
peringkatnya dalam inisiasi sufi berubah dari yang
mencintai jadi yang dicintai.

Dari penjelasan dan pemaparan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pada dasarnya Rumi merupakan sosok yang ahli dalam bidang hukum (faqih), di samping menguasai berbagai ilmu lain. Namun karena pengaruh Syams, ia telah mulai menekuni dunia sufi, sehingga ia mengenang gurunya ini dengan membuat syair dalam satu kitan yang berjudul Diwan-i Syams Tabrizi.

2. Berbeda dengan kebanyakan sufi yang lebih mementingkan aspek maqamat dalam menapaki kehidupan sufi, maka Rumi tidak menjadikan maqamat sebagai bentuk jalan untuk menuju Ilahi.

3. Ajaran dan pemikiran Rumi hanya dapat ditelaah melalui bait-bait syairnya, sehingga dengan memahami syair-syairnya, maka akan dapat dipahami ajaran sufisme Rumi yang sebenarnya, baik yang menyangkut aspek ketuhanan, kemanusiaan, alam maupun keterkaitan dari ketiga aspek tersebut.

PENUTUP

Dengan demikian dari semua uraian di atas kita dapat mengetahui bahwa tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengenal ajaran-ajaran Rumi. Khususnya menyangkut sejumlah spekulasi mistik. Teologinya yang pertama, pesan-pesan yang terdapat dalam ajaran-ajarannya bersifat dinamis, sehingga sangat membantu dalam menghidupkan kembali “semangat keagamaan” masyarakat muslim kontemporer yang masih belum bangkit dari tidur pulasnya. Kedua, metode-metode yang digunakan Rumi dalam mengartikulasikan pemikiran-pemikirannya sangatlah efektif. Rumi mendekati suatu masalah secara langsung, seakan-akan gampang saja baginya. Dengan menggambarkan peristiwa sehari-hari ke dalam anekdot, fabel, dongeng dan sebagainya sehingga masalah itu hampir-hampir terpecahkan dengan sendirinya.

Ketiga, Rumi memberi manusia modern sebagai pandangan atau refleksi, yang umumnya telah hilang di tengah kekacauan dan kebimbangan masa modern, tentang eksistensi manusia, seperti kedudukan manusia di alam semesta, kehendak bebas yang dianugerahkan Tuhan sebagai amanah, pengetahuan sejati (ma’rifah) yang dapat membimbingnya menuju jalan yang benar, cinta tanpa pamrih (isyq, mahabbah) yang dapat menyucikan jiwa, toleransi yang bisa mendatangkan perdamaian sejati diantara manusia, dan sebagainya.

________o(o)o________

DAFTAR PUSTAKA

Chittick, William C., Jalan Cinta Sang Sufi, terj. M. Sadat Ismail dan Achmad Nidjam, Adipura,Yogyakarta, 2001.

Hamka, Tasauf : Perkembangan dan Pemurniannya, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1993.

Kartanegara, Mulyadhi, Jalal al-Din Rumi; Guru Sufi dan Penyair Agung, Teraju (PT. Mizan Publika),Jakarta, 2004.

Rumi, Jalaluddin, Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya, terj. Anwar Holid, Pustaka Hidayah,Bandung, 2002.

Schimmel, Annemerie. Dunia Rumi : Hidup dan Karya Penyair Besar Rumi, terj. Saut Pasaribu, Pustaka Sufi, Yogyakarta, 2002.


[1] Hamka, Tasauf : Perkembangan dan Pemurniannya, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1993, hlm. 19

[2] William C. Chittick, Jalan Cinta Sang Sufi, terj. M. Sadat Ismail dan Achmad Nidjam, Adipura, Yogyakarta, 2001, hlm.1

[3] Jalaluddin Rumi, Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya, terj. Anwar Holid, Pustaka Hidayah,Bandung, 2002, hlm.4 -5

[4] William C. Chittik, op.cit., hlm.4 -5

[5] Jalaluddin Rumi, op.cit., hlm.12-13

[6] Ibid., hlm 14-16

[7] Kartanegara, Mulyadhi, Jalal al-Din Rumi; Guru Sufi dan Penyair Agung, Teraju (PT. Mizan Publika), Jakarta, 2004, hlm. 48-57

[8] Ibid., hlm. 77-80.

[9] Ibid., hlm. 70-71

[10] Ibid., hlm. 87-90

[11] Ibid., hlm. xiii

[12] Annemerie Schimmel, Dunia Rumi : Hidup dan Karya Penyair Besar Rumi, terj. Saut Pasaribu, Pustaka Sufi,Yogyakarta, 2002, hlm. 90

 http://otakberpikir.wordpress.com/2010/11/28/jalaludin-rumi/
http://sufiroad.blogspot.com/2008/09/manakib-jalaludin-rumi.html

About Taufik Irawan

Founder of ABISTHA - Photo & Digital Printing

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RSS Koleksi eBook

  • Radikus Makan Kakus (Bukan Binatang Biasa) - Raditya Dika
    Download eBook Gratis Radikus Makan Kakus (Bukan Binatang Biasa)Tebal : x + 232 halamanUkuran : 11,5cm x 19 cmPengarang : Raditya DikaPenerbit : Gagas MediaISBN : 979-780-166-7Tidak Dianjurkan Untuk Ibu Hamil.Beberapa menit kemudian, kelas dimulai.Kayaknya, ngajar kelas 1 SMP bakalan jadi living hell.Baru masuk aja udah berisik banget."Selamat siang, sa […]
  • Babi Ngesot - Raditya Dika
    Download eBook Gratis Babi Ngesot karya Raditya Dika. Kesurupan Mbak Minah semakin menjadi-jadi. Tubuhnya semakin susah dikendalikan oleh kita bertiga. Lalu tiba-tiba, Ingga berkata, ‘Pencet idungnya, Bang.’‘Apa?’Idungnya,’ Ingga meyakinkan. ‘Aku pernah baca di mana gitu, pencet aja idungnya.’‘Tapi, Ngga?’‘ABANG! PENCET IDUNGNYA SEKARANG!’ Edgar memerintahka […]
  • Cinta Brontosaurus - Raditya Dika
    Download eBook Gratis Cinta Brontosaurus Penulis : Raditya DikaPenerbit : GagasMediaJumlah halaman : 152 + viiiTahun terbit : tahun 2006Cinta brontosaurus merupakan buku kumpulan cerita pribadi dari Raditya Dika, pengarang buku bestseller kambing jantan. Seperti buku kambing jantan, buku ini merupakan kumpulan cerita pribadi atau kisah nyata sang penulis yan […]
  • Kambing Jantan "Sebuah Catatan Pelajar Bodoh" - Raditya Dika
    Download eBook Gratis Kambing Jantan "Sebuah Catatan Pelajar Bodoh"Penulis : Raditya DikaPenerbit : Gagas MediaKota : Jakarta selatanTanggal terbit : Cetakan pertama 2005, Cetakan kedua puluh delapan 2010Jumlah halaman: 237Desain cover : soft coverKategori : Remaja/UmumText Bahasa : IndonesiaKambing Jantan : Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh adal […]
  • 5 cm - Donny Dhirgantoro
    Download eBook Gratis 5 Cm ini bercerita tentang persahabatan lima orang anak manusia yang bernama Arial, Riani, Zafran, Ian, dan Genta. Dimana mereka memiliki obsesi dan impian masing-masing. Lima sahabat ini telah menjalin persahabatan selama tujuh tahun. Suatu ketika mereka merasa jenuh dengan aktivitas yang selalu mereka lakukan bersama-sama.Terbersit id […]
  • Panduan Lengkap Memakai Adobe Photoshop CS - Adi Kusrianto
    Download eBook Gratis Panduan Lengkap Memakai Adobe Photoshop CS karya Adi Kusrianto. Buku ini disertai dengan contoh-contoh yang memotivasi pembaca untuk mencoba dan berkreasi dengan idenya sendiri serta menyajikan penjelasan singkat serta lengkap seluruh komponen yang ada pada Photoshop CS. Adobe Photoshop adalah salah satu produk andalan dari Adobe Corpor […]
  • Gajah Mada : Perang Bubat - Langit Kresna Hariadi
    Download eBook Gratis Gajah Mada 4 : Perang Bubat oleh Langit Kresna Hariadi adalah salah satu tonggak sejarah yang amat penting, kisahnya menjadi pewarna perjalanan Nusantara. (Perang Bubat) Perang yang mengawali kehancuran Majapahit itu menyisakan luka yang amat dalam bagi Jawa dan Sunda. Ini adalah akhir konflik kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh, sekalig […]
  • Gajah Mada - Langit K. Hariadi
    Download eBook Gratis Gajah Mada Setting pada novel ini adalah pemerintahan Jayanegara yang dikudeta oleh Ra Kuti. Ra Kuti adalah sebutan/singkatan dari Rakrian Kuti, sebuah anugerah dari Prabu Jayanegara menjadikan namanya menjadi Rakrian Dharma Putra Winehsuka.Dikisahkan pada jaman ini Gajah Mada masih seorang bekel, sebuah pangkat ketentaraan di bawah sen […]
  • Gajah Mada : Hamukti Palapa - Langit K. Hariadi
    Download eBook Gratis Gajah Mada : Hamukti Palapa - Langit K. Hariadi. Entah ilham dari mana yang merasuki jiwa dan pikiran Gajah Mada hingga ia begitu terobsesi untuk mengikat serakan pulau yang sedemikian banyak dan luas dalam wadah Nusantara di bawah panji¬panji Majapahit Entah keteguhan macam apa yang dimiliki Gajah Mada hingga tanpa keraguan sedikit pun […]
Adsense Indonesia

Twitter Updates

Sudah dilihat

  • 165,218 kali

Masukan alamat email.

Join 8 other followers

Top Rate

%d bloggers like this: