archives

Sejarah

This category contains 15 posts

Perang Bubat – Aan Merdeka Permana

Mengangkat kembali peristiwa Perang Bubat itu dalam jalinan kisah yang memukau, filmis, dan asyik. 
–Maman S.Mahayana (Kritikus Sastra, Pengajar FIB-UI).

Perang Bubat adalah peristiwa sejarah yang menjadi kontroversi di antara budaya Sunda dan Jawa, dan melahirkan berbagai prasangka di antara keduanya.

Mengapa rombongan Kerajaan Sunda yang datang ke Bubat, Majapahit, untuk mengantar Putri Dyah Pitaloka menjadi istri Prabu Hayam Wuruk, diserang pasukan Majapahit yang bersenjata lengkap? Peran Mahapatih Gajah Mada dalam tragedi itu juga menjadi bahan perdebatan. Apakah insiden itu disebabkan ambisinya untuk menyempurnakan Sumpah Palapa dengan menaklukkan Sunda? Ataukah ia sebenarnya hanya dikambinghitamkan oleh orang-orang yang dengki atas ketenarannya? Benarkah sesungguhnya di antara Dyah Pitaloka dan Gajah Mada pernah terjalin hubungan asmara?

Berbagai sumber sejarah memberikan versi yang berbeda tentang kejadian tersebut. Penulis novel ini, seorang pemerhati sejarah Sunda, menggali sumber-sumber sastra lisan yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari Bandung selatan, Garut, Lawang Sumber di tepian Kota Surabaya, hingga ke Bubat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Hasilnya adalah kisah Perang Bubat yang sangat berbeda dari versi yang selama ini kita ketahui dari sejarah resmi.

Inilah kisah Perang Bubat yang sangat berbeda dari versi yang selama ini kita ketahui dari sejarah resmi.

Download [Klik Disini]

Advertisements

Isme-Isme yang Mengguncang Dunia – William Ebenstein

Judul Isme-Isme yang Mengguncang Dunia
Penulis William Ebenstein
Penerbit Penerbit Narasi
ISBN 979756486X, 9789797564865

Baca Buku [Klik Disini]

Niskala : Gajah Mada Musuhku – Hermawan Aksan

Judul buku: Niskala
Penulis: Hermawan Aksan
Penyunting: Imam Risdiyanto
Penerbit: Bentang
Cetakan: I, Juli 2008
Tebal: 289 hlm

Tidak mudah memadukan fakta sejarah dengan fiksi dan tak banyak penulis yang mampu melakukannya dengan baik. Salah satu yang terbaik, siapa lagi kalau bukan, Pramoedya Ananta Toer. Lihat saja bagaiman ia dengan piawainya menghaturkan sejarah kerajaan Singasari lewat novel Arok-Dedes. Kisah kerajaan Mataram melalui tuturan memikat dalam buku gemuk Arus Balik. Dan tentu masterpiece-nya Bumi Manusia , episode awal tetraloginya itu, yang menyoal riwayat hidup Raden Mas Adi Suryo, tokoh pers pertama Indonesia.

Di belakang Pram, ada banyak lagi penulis fiksi sejarah yang cukup rajin dan konsisten dengan jalur yang dipilihnya, antara lain: Remy Sylado, Langit Kresna dengan serial Gajah Mada-nya serta Hermawan Aksan. Nama yang terakhir ini, sama halnya dengan Langit Kresna, menuliskan kembali riwayat Gajah Mada hanya dengan perspektif yang berbeda. Hermawan Aksan mengambil sudut pandang dari Kerajaan Sunda lewat kisah dramatis Dyah Pitaloka yang konon bunuh diri di padang Bubat saat rombongannya dicegat dan dibantai oleh pasukan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa tersebut kemudian kita kenal sebagai Perang Bubat; perang yang menimbulkan luka sejarah di antara orang Sunda dan Jawa. Bekasnya masih terus mengabadi hingga kini. Sampai-sampai di Bandung serta kota-kota Jawa Barat lainnya tidak terdapat jalan yang memakai nama Gajah Mada dan Hayam Wuruk.

Cerita Perang Bubat itu ada dalam novel Dyah Pitaloka yang ditulis Hermawan pada 2005. Rupanya penulis yang juga wartawan Tribun Jabar ini tidak puas hanya sampai di perang Bubat. Ia kemudian melanjutkannya dalam novel terbarunya, Niskala dengan tambahan subjudul Gajah Mada Musuhku (kenapa juga harus ada tambahan judul ini?)

Niskala adalah nama adik lelaki Dyah Pitaloka yang sewaktu ditinggal pergi kakaknya itu baru berusia 9 tahun. Kematian ayahanda dan kakaknya semata wayang di tegal Bubat akibat ulah Gajah Mada diam-diam telah menyemaikan benih dendam dalam hati bocah kecil itu yang tujuh tahun kemudian bertekad membalaskannya.

Maka, Niskala yang memiliki nama kecil Anggalarang itu pun berangkatlah menuju Majapahit guna menantang duel sang mahapatih perkasa Gajah Mada. Kisah selama perjalanannya inilah yang dituturkan bagai cerita silat oleh Hermawan yang sangat terkesan pada kisah Panji Tengkorak (Hans Jaladara) serta Nagasasra dan Sabuk Inten (S.H. Mintardja). Sebenarnya menarik andai saja Hermawan bisa menghindar dari pengulangan-pengulangan adegan perkelahian yang terasa monoton.

Jika mesti membandingkan dengan novel pertamanya, saya lebih suka yang pertama. Pada Dyah Pitaloka selain unsur sejarahnya lebih pekat, juga gagasan yang disampaikannya lebih dalam : mendekonstruksi citra Gajah Mada yang selama ini kondang sebagai figur pahlawan dalam novel tersebut berbalik menjadi si biang keladi yang culas. Sementara itu, Niskala hanya bertumpu pada upaya pembalasan dendam.

Jelas novel Niskala ini lebih banyak kandungan fiksinya ketimbang fakta sejarahnya. Maka, kelirulah kalau kita menjadikannya sebagai acuan sejarah, karena meskipun di dalamnya terdapat nama dan peristiwa yang bersangkutan erat dengan riwayat Majapahit serta Kerajaan Sunda yang mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi itu, akhirnya hanya sebagai “tempelan” saja demi memperkuat lakon. Namun, itu toh sah-sah saja dalam sebuah karya fiksi, bukan?***(Sumber:BlogPerca)

Download [Klik Disini]

Misteri Supersemar – Eros Djarot

Judul Misteri Supersemar
Dëtak files
Penulis Eros Djarot
Editor Eros Djarot
Penerbit MediaKita, 2006
ISBN 979794011X, 9789797940119
Tebal 107 halaman

Supersemar merupakan salah satu fase gelap dalam sejarah Indonesia. Sebagian menganggap peristiwa itu adalah kudeta terselubung yang dilakukan oleh Soeharto, dengan dukungan Angkatan Darat, kepada Presiden Soekarno. Sebagian lagi menganggap Supersemar adalah keharusan, karena Soekarno telah menempuh langkah yang melenceng dan tak bisa dibiarkan begitu saja. Perdebatan tentang Supersemar makin menguat bersamaan dengan kegerahan orang terhadap pemerintahan Soeharto yang makin menekan dan terkesan tidak rela untuk meninggalkan kursi kepresidenannya. Ini membuat Supersemar dibicarakan dalam suara negatif: bahwa yang dipegang Soeharto adalah Supersemar palsu-Supersemar yang direkayasa sedemikian rupa sehingga memberi wewenang tak terbatas bagi pemegangnya.

Salah satu media yang gigih mengungkap perkara Supersemar adalah DeTAK. Dalam edisi No. 32, tahun ke-1, tanggal 2-8 Maret 1999, DeTAK mengangkat satu laporan yang cukup lengkap tentang Supersemar dengan menampilkan narasumber yang sebelumnya “diancam” agar tidak bersuara.

Kumpulan artikel dan pemberitaan tentang Supersemar di DeTAK itu diterbitkan lagi dalam bentuk buku yang berjudul Misteri Supersemar. Buku yang diterbitkan oleh mediakita ini juga dilengkapi hasil wawancara dengan Ali Ebram, si pengetik Supersemar.

Download Buku [Klik Disini]

Tan Malaka : Gerakan Kiri Dan Revolusi Indonesia Volume 1 – Harry A. Poeze

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 19 Februari 1896 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 16 April 1949 pada umur 53 tahun[1]) adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin sosialis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.

Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan sosialis, ia juga sering terlibat konflik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan sosialis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai “Pahlawan revolusi nasional” melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.[rujukan?]

Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat.

Tokoh ini diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir bulan Juni 1946 oleh “sekelompok orang tak dikenal” di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda.[2]

Riwayat

Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda.

Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.

Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik

Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka di undang dalam acara tersebut.

Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang.

Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda.
Perjuangan

Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.

Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia”. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.

Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….”

Madilog

Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama. Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.

Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.

Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.

Pahlawan

Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.

Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya[1].

Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949. Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

Tan Malaka dalam fiksi

Dengan julukan Patjar Merah Indonesia Tan Malaka merupakan tokoh utama beberapa roman picisan yang terbit di Medan. Roman-roman tersebut mengisahkan petualangan Patjar Merah, seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air-nya, Indonesia, dari kolonialisme Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan polisi rahasia internasional.

Salah satu roman Patjar Merah yang terkenal adalah roman karangan Matu Mona yang berjudul Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Nama Pacar Merah sendiri berasal dari karya Baronesse Orczy yang berjudul Scarlet Pimpernel, yang berkisah tentang pahlawan Revolusi Prancis.

Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya, yaitu Muso (sebagai Paul Mussotte), Alimin (Ivan Alminsky), Semaun (Semounoff), Darsono (Darsnoff), Djamaluddin Tamin (Djalumin) dan Soebakat (Soe Beng Kiat).

Kisah-kisah fiksi ini turut memperkuat legenda Tan Malaka di Indonesia, terutama di Sumatera.
Beberapa judul kisah Patjar Merah:
Matu Mona. Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Medan (1938)
Matu Mona. Rol Patjar Merah Indonesia cs. Medan (1938)
Emnast. Tan Malaka di Medan. Medan (1940)
Tiga kali Patjar Merah Datang Membela (1940)
Patjar Merah Kembali ke Tanah Air (1940)

Download [Klik Disini]

11 Macan Asia musuh Amerika – Amir Hendarsah – Pratiwi Utami – Amir Hendarsah

Siapa bilang keadidayaan Amerika itu sejati? Amerika-yang selama ini tenar sebagai negara adikuasa- tak ubahnya seperti Goliath. Ya, raksasa Goliath dalam kisah (Daud) “David dan Goliath”. Sosok yang merasa paling kuat sejagad, hobi membawa gada dan meluluhlantakkan siapa yang menetangnya dengan sekali sabetan, semena-mena juga maruk kuasa. Tetapi, siapa pun tahu, sejarah berkata lain. Raksasa Goliath-meskipun kuat-dapat dikalahkan oleh Daud (David). Kekuatan dan keperkasaan Goliath terbukti tidak absolut. Goliath ditumbangkan Daud (David) yang kecil dan tak sepadan dengannya.

Jika adagium ‘sejarah akan berulang’ itu benar, maka yang disampaikan dalam pengantar buku ini bukan sekadar omong doang. Kedigdayaan Amerika hanyalah mitos! Amerika yang diidentikkan dengan Raja Goliath, akan mengalami kejatuhan karena digulingkan oleh Daud-daud (Davis-david) yang lain. Siapa Daud (David) yang dimaksud? Siapa yang bisa di gadang-gadang untuk bisa mereduksi kesuperpoweran Amerika?

Amir Hendarsah, dalam 11 Macan Asia Musuh Amerika mencoba mengangkat profil-profil negara yang dianggap berperan sebagai Daud (David) kecil. Negara-negara ini-meskipun kecil dan terlihat tak punya daya- menyimpan segudang potensi untuk meruntuhkan kekuasaan negara Paman Sam yang telah mengakar kuat di pelosok jagad. Ada Vietnam, Korea Utara, dan Jepang. Mereka-negara-negara kecil Asia ini-dalam catatan sejarah berhasil membuat angkatan bersenjata Amerika kebat-kebit dalam perang-perang di Asia. Masih di kawasan Asia, Republik Rakyat China-yang kekuatan angkatan bersenjatanya berada di urutan ke-3 dunia-menjadi potensi ancaman yang sangat besar bagi Amerika. Ada Irak-yang meski berhasil diduduki Amerika-telah menjadi ‘kerikil dalam sepatu’ karena selama puluhan tahun menolak tunduk atas tekanan Amerika.

Apa ajian dan senjata yang dimiliki negara-negara kecil ini untuk head to head melawan Amerika? Buku ini secara ringkas mengupasnya. Ketika angkatan bersenjata Amerika mempunyai persenjataan canggih seperti pesawat tempur, tank, mobil peluncur roket, maka gudang amunisi Daud-Daud kecil ini juga mempunyai hal yang sama. Meski dari segi kuantitas dan kualitas senjata berbeda, para Daud (David) kecil ini memiliki beberapa hal yang ditakuti Amerika. Irak dalam panduan Ahmadinejad tetap nekat melanjutkan proyek uraniumnya. Kemudian ada Mahathir Mohammad dengan partai UMNOnya yang getol mengkiritk Ekonomi kapitalisme ala Amerika. Dengan sepihak membatalkan pembelian senjata dari Amerika dan memilih beralih ke Rusia. Hal-hal seperti ini sukses membuat negara yang dipimpin Bush Jr. kebakaran jenggot karena memilih tak sejalan dengan kebijakan Amerika. Tak lupa, Ir. Sukarno-proklamator kita- juga dihadirkan. Perlawanan Bung Karno menolak sistem imperialisme ekonomi telah memunculkan kabar burung bahwa CIA ikut andil dalam peralihan kekuasaan orla-orba.

Meski hanya diceritakan secara ringkas, buku ini dapat mengingatkan kembali aksi dan kiprah para tokoh besar Asia yang berani menetang kebijakan Amerika. Meski belum semua tokoh Asia-yang di black list Amerika- diulas dalam pemaparannya, Amir Hendarsah telah menyajikan satu khazanah melengkapi bacaan-bacaan kita. Buku ini tak hanya perlu dibaca oleh penyuka buku politik, namun, pelajar juga. Guna melengkapi cakrawala memandang sejarah dunia.

Peresensi:
Rr. Hani P.N
Mahasiswa FISIPOL UGM, pecinta buku, pegiat di FOSMA ESQ Jogja.

Judul 11 Macan Asia musuh Amerika
Penulis Amir Hendarsah, Pratiwi Utami, Amir Hendarsah
Penerbit Galangpress Group, 2007
ISBN 9792399194, 9789792399196
Tebal 206 halaman

Baca Buku [Klik Disini]

Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara – Seri Buku Tempo

Dipa Nusantara Aidit yang lebih dikenal dengan DN Aidit (lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 30 Juli 1923 – meninggal di Boyolali, Jawa Tengah, 22 November 1965 pada umur 42 tahun) adalah Ketua Komite Sentral Partai Komunis Indonesia (CC-PKI). Ia dilahirkan dengan nama Achmad Aidit di Belitung, dan dipanggil “Amat” oleh orang-orang yang akrab dengannya. Di masa kecilnya, Aidit mendapatkan pendidikan Belanda. Ayahnya, Abdullah Aidit, ikut serta memimpin gerakan pemuda di Belitung dalam melawan kekuasaan kolonial Belanda, dan setelah merdeka sempat menjadi anggota DPR (Sementara) mewakili rakyat Belitung. Abdullah Aidit juga pernah mendirikan sebuah perkumpulan keagamaan, “Nurul Islam”, yang berorientasi kepada Muhammadiyah.

Terlibat dalam politik

Menjelang dewasa, Achmad Aidit mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit. Ia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang menyetujuinya begitu saja.

Dari Belitung, Aidit berangkat ke Jakarta, dan pada 1940, ia mendirikan perpustakaan “Antara” di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat. Kemudian ia masuk ke Sekolah Dagang (“Handelsschool”). Ia belajar teori politik Marxis melalui Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda (yang belakangan berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia). Dalam aktivitas politiknya itu pula ia mulai berkenalan dengan orang-orang yang kelak memainkan peranan penting dalam politik Indonesia, seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, dan Prof. Mohammad Yamin. Menurut sejumlah temannya, Hatta mulanya menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepadanya, dan Achmad menjadi anak didik kesayangan Hatta. Namun belakangan mereka berseberangan jalan dari segi ideologi politiknya.

Meskipun ia seorang Marxis dan anggota Komunis Internasional (Komintern), Aidit menunjukkan dukungan terhadap paham Marhaenisme Sukarno dan membiarkan partainya berkembang. Ia berhasil menjadi Sekjen PKI, dan belakangan Ketua. Di bawah kepemimpinannya, PKI menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia, setelah Uni Soviet dan RRC. Ia mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lekra, dan lain-lain.

Dalam kampanye Pemilu 1955, Aidit dan PKI berhasil memperoleh banyak pengikut dan dukungan karena program-program mereka untuk rakyat kecil di Indonesia. Dalam dasawarsa berikutnya, PKI menjadi pengimbang dari unsur-unsur konservatif di antara partai-partai politik Islam dan militer. Berakhirnya sistem parlementer pada tahun 1957 semakin meningkatkan peranan PKI, karena kekuatan ekstra-parlementer mereka. Ditambah lagi karena koneksi Aidit dan pemimpin PKI lainnya yang dekat dengan Presiden Sukarno, maka PKI menjadi organisasi massa yang sangat penting di Indonesia.

Peristiwa G-30-S

Pada 1965, PKI menjadi partai politik terbesar di Indonesia, dan menjadi semakin berani dalam memperlihatkan kecenderungannya terhadap kekuasaan. Pada tanggal 30 September 1965 terjadilah tragedi nasional yang dimulai di Jakarta dengan diculik dan dibunuhnya enam orang jenderal dan seorang perwira. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa G-30-S.

Pemerintah Orde Baru di bawah Jenderal Soeharto mengeluarkan versi resmi bahwa PKI-lah pelakunya, dan sebagai pimpinan partai, Aidit dituduh sebagai dalang peristiwa ini. Tuduhan ini tidak sempat terbukti, karena Aidit meninggal dalam pengejaran oleh militer ketika ia melarikan diri ke Yogyakarta dan dibunuh di sana oleh militer.

Kematian dan Kontroversi

Ada beberapa versi tentang kematian DN Aidit ini. Menurut versi pertama, Aidit tertangkap di Jawa Tengah, lalu dibawa oleh sebuah batalyon Kostrad ke Boyolali. Kemudian ia dibawa ke dekat sebuah sumur dan disuruh berdiri di situ. Kepadanya diberikan waktu setengah jam sebelum “diberesi”. Waktu setengah jam itu digunakan Aidit untuk membuat pidato yang berapi-api. Hal ini membangkitkan kemarahan semua tentara yang mendengarnya, sehingga mereka tidak dapat mengendalikan emosi mereka. Akibatnya, mereka kemudian menembaknya hingga mati. versi yang lain mengatakan bahwa ia diledakkan bersama-sama dengan rumah tempat ia ditahan. Betapapun juga, sampai sekarang tidak diketahui di mana jenazahnya dimakamkan.

Selain kematiannya, kelahiran Aidit pun bermacam-macam versi. Beberapa mengatakan Aidit kelahiran Medan, 30 Juli 1923 dengan nama lengkap Dja’far Nawi Aidit. Keluarga Aidit konon berasal dari Maninjau, Sumatera Barat yang pergi merantau ke Belitung.[1] Namun banyak masyarakat Maninjau tidak pernah mengetahui dan mengakui hal itu.

Tulisan DN Aidit

  1. Sedjarah gerakan buruh Indonesia, dari tahun 1905 sampai tahun 1926 (1952)
  2. Perdjuangan dan adjaran-adjaran Karl Marx (1952)
  3. Menempuh djalan rakjat: pidato untuk memperingati ulangtahun PKI jang ke-32 – 23 Mei 1952 (1954)
  4. Tentang Tan Ling Djie-isme: referat jang disampaikan pada kongres nasional ke-V PKI (1954)
  5. Djalan ke Demokrasi Rakjat bagi Indonesia: (Pidato sebagai laporan Central Comite kepada Kongres Nasional ke-V PKI dalam bulan Maret 1954 (1955) / bahasa Inggris: The road to people’s democracy for Indonesia (1955)
  6. Untuk kemenangan front nasional dalam pemilihan umum, dan kewadjiban mengembangkan kritik serta meninggikan tingkat ideologi Partai: Pidato dimuka sidang pleno Central Comite ke-3 PKI pada tanggal 7 Agustus 1955 (1955)
  7. Pertahankan Republik Proklamasi 1945!: Perdjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan nasional, perdamaian dan demokrasi sesudah pemilihan parlemen (1955)
  8. Menudju Indonesia baru: Pidato untuk memperingati ulang-tahun PKI jang ke-33 (1955)
  9. Perjuangan dan adjaran-adjaran Karl Marx (1955)
  10. Revolusi Oktober dan rakjat2 Timur (1957)
  11. 37 tahun Partai Komunis Indonesia (1957)
  12. Masjarakat Indonesia dan revolusi Indonesia: (soal² pokok revolusi Indonesia) (1958)
  13. Sendjata ditangan rakjat (1958)
  14. Kalahkan konsepsi politik Amerika Serikat (1958)
  15. Visit to five socialist states: talk by D.N. Aidit at the Sports Hall in Djakarta on 19th September (1958)
  16. Konfrontasi peristiwa Madiun (1948) – Peristiwa Sumatera (1956) (1958)
  17. Ilmu pengetahuan untuk rakjat, tanahair & kemanusiaan (1959)
  18. Pilihan tulisan (1959)
  19. Introduksi tentang soal2 pokok revolusi Indonesia kuliah umum (1959)
  20. Untuk demokrasi dan kabinet gotong rojong (laporan umum Comite Central Partai Komunis Indonesia kepada Kongres Nasional ke-VI) (1959)
  21. Dari sembilan negeri sosialis: kumpulan laporan perlawatan kesembilan negeri sosialis (1959)
  22. Peladjaran dari sedjarah PKI (1960)
  23. Indonesian socialism and the conditions for its implementation (1960)
  24. Memerangi liberalisme (1960)
  25. 41 tahun PKI (1961)
  26. PKI dan MPRS (1961)
  27. Perkuat persatuan nasional dan persatuan komunis!: laporan politik ketua CC PKI kepada Sidang Pleno ke-III CC PKI pada achir tahun 1961 (1961)
  28. Anti-imperialisme dan Front Nasional (1962)
  29. Setudju Manipol harus setudju Nasakomn (1962)
  30. Pengantar etika dan moral komunis (1962)
  31. Tentang Marxisme (1962)
  32. Untuk demokrasi, persatuan dan mobilisasi laporan umum atas nama CC PKI kepada Kongres Nasional ke-VI (1962)
  33. Indonesian communists oppose Malaysia (1962)
  34. Berani, berani, sekali lagi berani: laporan politik ketua CC PKI kepada sidang pleno I CC PKI, disampaikan pada tanggal 10 Februari 1963 (1963)
  35. Hajo, ringkus dan ganjang, kontra revolusi: pidato ulangtahun ke-43 PKI, diutjapkan di Istana Olah Raga “Gelora Bung Karno” pada tanggal 26 Mei 1963 (1963)
  36. Langit takkan runtuh (1963)
  37. Problems of the Indonesian revolution (1963)
  38. Angkatan bersendjata dan penjesuaian kekuasaan negara dengan tugas² revolusi; PKI dan Angkatan Darat (1963)
  39. PKI dan ALRI (SESKOAL) (1963)
  40. PKI dan AURI (1963)
  41. PKI dan polisi (1963)
  42. Dekon dalam udjian (1963)
  43. Peranan koperasi dewasa ini (1963)
  44. Dengan sastra dan seni jang berkepribadian nasional mengabdi buruh, tani dan pradjurit (1964)
  45. Aidit membela Pantjasila (1964)
  46. PKI dan Angkatan Darat (Seskoad) (1964)
  47. Aidit menggugat peristiwa Madiun: pembelaan D.N. Aidit dimuka pengadilan Negeri Djakarta, Tgl. 24 Februari 1955 (1964)
  48. “The Indonesian revolution and the immediate tasks of the Communist Party of Indonesia” (1964)
  49. Untuk bekerdja lebih baik dikalangan kaum tani (1964)
  50. Dengan semangat banteng merah mengkonsolidasi organisasi Komunis jang besar: Djadilah Komunis jang baik dan lebih balk lagi! (1964)
  51. Kobarkan semangat banteng! – Madju terus, pantang mundur! Laporan politik kepada sidang pleno ke-II CCPKI jang diperluas dengan Komisi Verifikasi dan Komisi Kontrol Central di Djakarta tanggal 23-26 Desember 1963 (1964) / bahasa Inggris: Set afire the banteng spirit! – ever forward, not retreat! – political report to the second plenum of the Seventh Central Committee Communist Party of Indonesia, enlarged with the members of the Central, 1963 (1964)
  52. Kaum tani mengganjang setan-setan desa: laporan singkat tentang hasil riset mengenai keadaan kaum tani dan gerakan tani Djawa Barat (1964)
  53. Perhebat ofensif revolusioner disegala bidang! Laporan politik kepada sidang pleno ke-IV CC PKI jang diperluas tanggal 11 Mei 1965 (1965)
  54. Politik luarnegeri dan revolusi Indonesia (kuliah dihadapan pendidikan kader revolusi angkatan Dwikora jang diselenggarakan oleh pengurus besar Front Nasional di Djakarta) (1965)

Selain itu, sebagian dari tulisan-tulisannya juga diterbitkan di Amerika Serikat dengan judul The Selected Works of D.N. Aidit (2 vols.; Washington: US Joint Publications Research Service, 1961).

Seri Buku Tempo

Bertahun-tahun masyarakat mengenalnya sebagai “Si Jahat”. Film Pengkhianatan G-30-S/PKI mengukuhkan citra kejam Aidit sebagai orang yang memerintahkan pembunuhan 1965. Ia memimpikan masyarakat tanpa kelas di Indonesia, namun terempas dalam prahara 1965.

Seri Buku TEMPO Orang Kiri Indonesia menyingkap yang belum terungkap apa saja dibalik para tokoh komunis Indonesia. Seri ini pernah disampaikan dalam liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo pada 2007-2010. Seri ini menuturkan pemikiran, ketakutan, kekecewaan, pengkhianatan, serta juga asmara dan perselingkuhan tokoh-tokoh PKI.

Judul Aidit
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN 9799102790, 9789799102799

Baca Buku [Klik Disini]

Natsir : Politik Santun di Antara Dua Rezim – Tim Seri Buku TEMPO

Bangsa Indonesia tidak boleh melupakan tokoh yang satu ini: Mohammad Natsir. Natsir adalah satu dari sedikit tokoh Islam di masa awal republik yang tak gagap akan gagasan demokrasi, hak asasi manusia, dan supremasi hukum.

Ia dikenal santun, sederhana, toleran, serta teguh dalam memperjuangkan Republik Indonesia. Karena itu, seabrek atribut disematkan kepadanya, mulai dari cendekiawan, pejuang, politisi, ulama, maupun negarawan.

Bagi umat Islam, Natsir merupakan prototipe tokoh kebangkitan Islam Indonesia yang fenomenanya setara dengan Sayyid Quthub dari Ikhwanul Muslimun atau pun Abul A’la Al- Maududi dari Jama’at Al-Islami.

Lantaran itu, dunia Islam pun mengakui peran dan pemikirannya. Buku berjudul Natsir: Politik Santun di antara Dua Rezim ini penting dibaca lantaran menguraikan fakta-fakta sejarah perjuangan Natsir yang sangat mencintai Indonesia.

Natsir adalah patron politisi langka Indonesia. Ia sering berdebat keras di DPR dan Konstituante dengan lawan politiknya, tapi di luar gedung, ia sangat bersahabat. Natsir juga contoh pribadi yang bersahaja. Sebagai pejabat negara, dia tak hidup bermewah-mewah, bahkan ia pernah mengenakan jas tambalan.

Pada 1945, Natsir merupakan aktivis Muslim inklusif yang berperan besar dalam membangun jiwa nasionalisme umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kaki-kaki ke-Indonesia-an dibangun dengan falsafah keagamaan dan kemanusiaan, sehingga Islam bisa tampil sebagai garda depan pembangunan bangsa.

Selain Mohammad Natsir, di antara tokoh-tokoh terkemuka tersebut adalah Tjokroaminoto, H Agus Salim, dan Wahid Hasyim. Tokoh-tokoh ini diakui sebagai aktivis Muslim inklusif yang meneguhkan posisi Islam dalam kancah kehidupan kebangsaan dan kenegaraan.

Buku ini mencoba mengurai peran politik sosok Mohammad Natsir dalam sejarah politik Indonesia, khususnya perannya dalam Orde Lama dan Orde Baru.

Natsir menjadi sangat tenar dalam kancah politik Indonesia tatkala dia menjadi Ketua Umum Masyumi pada 1948. Natsir dikenal sosok yang akomodatif, sehingga mampu menjela tokoh yang bukan saja disegani umat Islam, tetapi juga kaum nasionalis sekuler.

Pada 5 April 1950, Natsir mengajukan mosi integral dalam sidang pleno parlemen, yang secara aklamasi diterima oleh seluruh fraksi. Mosi ini memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang sebelumnya berbentuk serikat.

Natsir seolah menjadi kamus politik Islam bagi aktivis muslim yang aktif di PPP, Golkar, dan PDI. Ia memberikan keteduhan politik, bukan kecurangan dan keculasan.

Peresensi adalah Ali Rif’an, Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Ciputat dan Peneliti The Dewantara Institute, Jakarta.

Sumber, Koran Jakarta,08 April 2011
Judul : Natsir: Politik Santun di antara Dua Rezim
Peresensi: Ali Rif’an
Penulis : Tim Seri Buku TEMPO
Penerbit : KPG (kepustakaan Populer Gramedia) dan Majalah Tempo
Tahun : I, Januari 2011
Tebal : xi + 164 halaman

Baca Buku [Klik Disini]

Supriadi- pemberontakan tentara peta melawan Jepang – Harjana Hadipranata

Suprijadi (lahir di Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923 – wafat: ??? misteri) adalah pahlawan nasional Indonesia, pemimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) terhadap pasukan pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945. Ia ditunjuk sebagai menteri keamanan rakyat pada kabinet pertama Indonesia, Kabinet Presidensial, tapi digantikan oleh Soeljadikoesoemo pada 20 Oktober 1945 karena Suprijadi tidak pernah muncul. Bagaimana dan di mana Suprijadi wafat, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.

Menelusuri Jejak Supriyadi

Pemberontakan tentara Pembela Tanah Air (Peta) pada 14 Februari 1945 yang dipimpin oleh Shodanco (tentara) Supriyadi di Blitar hingga kini masih menyisakan berbagai pertanyaan khususnya bagi masyarakat Jatim.

Kemanakah perginya pahlawan yang gagah dan pemberani itu? Ada teman mantan shodancho tetapi mereka tidak mengetahui keberadaannya. Jika masih hidup dimanakah tempat tinggalnya, dan seandainya meninggal dimanakah kuburan atau makamnya. Sebagian besar masyarakat Blitar bila ditanya tentang Supriyadi selalu menggelengkan kepala seakan memberikan isyarat tidak mengerti.

Yang ada hanyalah saksi bisu bekas-bekas sang pahlawan pemberani pernah bermarkas. Saksi bisu itu berupa tempat kerja, kamar tidur, dapur tempat masak sekaligus kamar rapat rahasia, klinik berobat dan jejak dimana sang Supriadi pertama kali mengibarkan api perlawanan terhadap penjajah Jepang. Jejak dan bekas saksi bisu pahlawan pemberani ini sekarang telah menjadi komplek sekolahan kota Blitar, ujar Pegawai Dinas Pendidikan Kota Blitar yang ditempatkan di SMPN 3, 5 dan 6 Boenadi di tempat kerjanya.

Waktu itu tidak ada yang berani menentang pendudukan Jepang apa lagi melawan, hanya tentara Peta Daidan Blitar, berani melawannya. Memang ada beberapa pemberontakan sebelumnya, komandannya para ulama dan tokoh masyarakat di berbagai tempat di Indonesia tetapi kesemuanya belum membuahkan hasil yang memuaskan.

Penderitaan rakyat di seluruh Nusantara kala itu sudah sangat parah. Harga diri bangsa diinjak injak, kemiskinan, kelaparan dan berbagai kesengsaraan menjangkiti sendi kehidupan. Yang terjadi adalah sore sakit malam mati, malam sakit pagi mati, pagi sakit siang mati, siang sakit malam mati, begitu seterusnya.

Pemandangan menyesakkan dada dan membuat perih mata bathin itu yang akhirnya membakar nasionalisme Shodanco Supriyadi dan kawan-kawannya menyala sebagai kobaran api patriotisme. Pada hari Selasa Legi Malam Rabu Pahing 14 Februari 1945 Shodancho Supriyadi mulai berontak melawan penjajah. Pemberontakan PETA ini, terlihat kurang efektif karena hanya berlangsung dalam beberapa jam saja dan mengakibatkan tertangkapnya hampir seluruh anggota pasukan Peta kecuali sang pemberani Supriyadi. Namun dari sisi dampak yang ditimbulkan peristiwa pemberontakan Supriyadi ini telah mampu membuka mata dunia agar penjajah Jepang keluar dari Indonesia.

Pemberontakan Peta telah menggoreskan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, karena peristiwa tersebut merupakan satu satunya pemberontakan yang dilakukan oleh tentara didikan Jepang. Bahkan, pemberontakan ini boleh dikatakan sebagai satu-satunya fenomena anak didik Jepang yang berani melawan tuannya diseluruh kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur yang dijajah Kolonial Jepang.

Pelaku pemberontakan banyak yang sudah meninggal dunia, namun ada yang pernah memberikan keterangan di media maupun pada tulisan-tulisan sejarah. Mereka mengisahkan keterlibatan dirinya dalam peristiwa pemberontakan Peta Blitar, 64 tahun yang silam. Di antaranya adalah mantan anggota tentara PETA Blitar berpangkat Gyuhei, Budhanco, bahkan eks Shodanco, meski bukan dari Daidan Blitar. Di hari tuanya, mereka tersebar di berbagai pelosok dan sudut Blitar, namun hanya tinggal beberapa orang saja.

Beberapa ahli waris pelaku pemberontakan PETA, mulai dari keluarga Supriyadi di Blitar pun tak luput dari incaran untuk dapat kembali mengisahkan suasana kala itu. Dari berbagai buku mengenai sejarah pemberontakan Peta mengisahkan bahwa Shodanco Supriyadi berada di kediaman Hardjomiarso, Kepala Desa Sumberagung Kecamatan Gandusari (bahkan desa Sumberagung juga sempat dijadikan markas terakhir pemberontakan).

Ada ceritera yang menyebutkan Air terjun Sedudo, di Nganjuk adalah sebuah tempat lainnya di Jatim yang konon pernah disinggahi Supriyadi, pasca pemberontakan. Sebuah nama tertulis juga dalam buku sejarah pemberontakan Peta bahwa yang bersangkutan ikut membantu “menyembunyikan” Supriyadi dalam sebuah gua di puncak bukit dekat Sedudo.

Selain itu di desa Krisik di wilayah Kabupaten Blitar, berbatasan dengan Kabupaten Malang. Ada sebuah gua pertahanan jaman Jepang terdapat di sana. Tetapi gua pertahanan yang dimaksud tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan Supriyadi.

Ada pula berita dari Pantai Tambak, Pantai Jolosutro, Pantai Serang di Blitar Selatan. Dilokasi ini, katanya dulu tentara Peta Blitar membuat pertahanan, berlatih dan dengan ratusan para romusha bekerja paksa hingga menemui ajalnya. Namun kembali di tempat ini tak ada narsumber yang mampu bertutur mengenai adanya Supriyadi. Panceran desa Ngancar Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri, tepatnya dilereng Gunung Kelud. Katanya di lokasi ini Supriyadi pernah melarikan diri bersama dengan pengikutnya bergerilya pasca pembontakan.

Saksi keberadaan Supriyadi yang masih ada hingga saat ini adalah bangunan bekas Markas Tentara Peta di jalan Shodanco Supriyadi Blitar. Di kawasan yang kini dijadikan komplek pendidikan ini, terdapat bekas kamar tidur Supriyadi, dapur tentara PETA, bahkan kini telah berdiri megah monumen Peta Blitar. Tujuh patung terwujud disana menggambarkan wajah mereka pada saat pemberontakan terjadi 14 Februari 1945.

Bicara mengenai pemberontakan Peta Blitar, sebenarnya tidak hanya bicara mengenai sosok Supriyadi yang misterius. Seketika setelah pemberontakan berlangsung sebuah bendera (yang akhirnya kini menjadi bendera Republik Indonesia) warna merah putih, pernah berkibar di angkasa Blitar .

Menurut ceritera Parthohardjono (Tentara PETA Blitar) orangnya yang dengan gagah berani megibarkan merah putih di lapangan depan markas Tentara Peta Blitar. Tempat itu, kini masuk dalam kawasan taman makam pahlawan, persis di seberang monumen Peta Blitar. Sebuah catatan menyebutkan, pasca proklamasi kemerdekaan, tahun 1946 Panglima Besar Jenderal Sudirman pernah mengunjungi tempat dimana bendera merah putih pernah dikibarkan pertama kali di Blitar. Di lokasi ini Jendal sudirman menyematkan karangan bunga.

Boenadi menuturkan ketika pemberontakan berlangsung, suara tembakan mortir menggelegar, sebagai tanda dimulainya pemberontakan yang dipimpin oleh Supriyadi. Malam itu Kota Blitar benar benar mencekam suasananya. Hiruk pikuk tentara Peta yang mulai melakukan pemberontakan terhadap tuannya itu, makin membuat keberanian salah seorang kawan Supriyadi bernama Parthohardjono mengibarkan bendera merah putih di utara lapangan markas Peta Blitar.

Disini sang saka merah putih dikibarkan. Menurut ceritanya Parthohardjono melakukan hormat kepada bendera sang merah putih. Kemudian bersujud mencium tanah tiga kali dengan mata berkaca-kaca penuh haru, karena yakin bahwa malam itu Indonesia telah Merdeka.

Kobaran Api Patriotisme dan Nasionalisme Pemberontakan Peta Blitar itu, hingga kini masih menyala, dan menjelma sebagai sebuah semangat bagi Pemerintah Kota dan Kabupaten Blitar khususnya bangsa Indonesia pada umumnya.

Seharusnya ini bisa menjadi cambuk para pemimpin bangsa dalam memperjuangkan kepentingan rakyatnya. Betapa Supriyadi telah nyata memberikan bukti untuk melawan penjajah. Kemudian rekan Supriyadi yang bernama Parthohardjono telah memberikan tauladan keberanian dan semangat perjuangan yang begitu besar. Bukankah, tentara Peta telah rela mati untuk terbebas dari belenggu penjajahan.

Sungguh ironis kiranya, jika pemberontakan Peta hanya membekas sebagai sebuah catatan sejarah belaka. Selain itu peristiwa heroik itu hanya diagendakan untuk diperingati tiap tahunnya dalam sebuah seremonial tanpa makna.


Baca Buku [Klik Disini]

50 Tokoh Politik Legendaris Dunia – Achmad Munif

Ukuran : 16 x 24 cm
Tebal : 208 hlm
ISBN : 979-168-032-9
Cetakan : ke-2, 2007

Buku “50 Tokoh Politik Legendaris Dunia” ditulis oleh Achmad Munif. Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Narasi Yogyakarta. Cetakan Kedua, 2007. Terdiri atas 208 halaman.

Buku ini memuat kisah tokoh politik dunia yaitu :

01. ADOLF HITLER
02. AHMADINEJAD
03. ANWAR SADAT
04. AYATULLAH KHOMEINI
05. BENAZIR BHUTTO
06. CHANDRIKA KUMARATUNGA
07. CHARLES DE GAULLE
08. CORAZON AQUINO
09. DALAI LAMA
10. DENG XIAOPING
11. FERDINAND EDRALIN MARCOS
12. FIDEL CASTRO
13. GAMAL ABDUL NASSER
14. GOLDA MEIR
15. HAFEZ AL-ASSAD
16. HO CHI MINH
17. IBNU SAUD
18. INDIRA GANDHI
19. INSINYUR SOEKARNO
20. JAWAHARLAL NEHRU
21. JOHN FITZGERALD KENNEDY
22. JOSEPH STALIN
23. KAISAR HIROHITO
24. KIM IL SUNG
25. LECH WALESA
26. LEE KUAN YEW
27. LYNDON B JOHNSON
28. MAHATHIR MOHAMMAD
29. MAHATMA GANDHI
30. MAO ZEDONG
31. MARGARET THATCHER
32. MIKHAIL GORBACHEV
33. MOAMMAR KHADAFY
34. MOHAMMAD HATTA
35. MOHAMMAD ZIA-UL HAQ
36. MUHAMMAD ALI JINNAH
37. MUSTAFA KEMAL ATATURK
38. NELSON MANDELA
39. NORODOM SIHANOUK
40. PARK CUNG-HEE
41. RAJA CONSTANTINE II
42. RAJA FAISAL
43. RAJA HUSSEIN
44. RONALD REAGAN
45. SADDAM HUSSEIN
46. SHAH REZA PAHLAVI
47. SIRIMAVO BANDARANAIKE
48. SOEHARTO
49. TENGKU ABDUL RACHMAN
50. VLADIMIR ILYICH LENIN
51. YASSER ARAFAT

Download [Klik Disini] 

RSS Koleksi eBook

  • Radikus Makan Kakus (Bukan Binatang Biasa) - Raditya Dika
    Download eBook Gratis Radikus Makan Kakus (Bukan Binatang Biasa)Tebal : x + 232 halamanUkuran : 11,5cm x 19 cmPengarang : Raditya DikaPenerbit : Gagas MediaISBN : 979-780-166-7Tidak Dianjurkan Untuk Ibu Hamil.Beberapa menit kemudian, kelas dimulai.Kayaknya, ngajar kelas 1 SMP bakalan jadi living hell.Baru masuk aja udah berisik banget."Selamat siang, sa […]
  • Babi Ngesot - Raditya Dika
    Download eBook Gratis Babi Ngesot karya Raditya Dika. Kesurupan Mbak Minah semakin menjadi-jadi. Tubuhnya semakin susah dikendalikan oleh kita bertiga. Lalu tiba-tiba, Ingga berkata, ‘Pencet idungnya, Bang.’‘Apa?’Idungnya,’ Ingga meyakinkan. ‘Aku pernah baca di mana gitu, pencet aja idungnya.’‘Tapi, Ngga?’‘ABANG! PENCET IDUNGNYA SEKARANG!’ Edgar memerintahka […]
  • Cinta Brontosaurus - Raditya Dika
    Download eBook Gratis Cinta Brontosaurus Penulis : Raditya DikaPenerbit : GagasMediaJumlah halaman : 152 + viiiTahun terbit : tahun 2006Cinta brontosaurus merupakan buku kumpulan cerita pribadi dari Raditya Dika, pengarang buku bestseller kambing jantan. Seperti buku kambing jantan, buku ini merupakan kumpulan cerita pribadi atau kisah nyata sang penulis yan […]
  • Kambing Jantan "Sebuah Catatan Pelajar Bodoh" - Raditya Dika
    Download eBook Gratis Kambing Jantan "Sebuah Catatan Pelajar Bodoh"Penulis : Raditya DikaPenerbit : Gagas MediaKota : Jakarta selatanTanggal terbit : Cetakan pertama 2005, Cetakan kedua puluh delapan 2010Jumlah halaman: 237Desain cover : soft coverKategori : Remaja/UmumText Bahasa : IndonesiaKambing Jantan : Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh adal […]
  • 5 cm - Donny Dhirgantoro
    Download eBook Gratis 5 Cm ini bercerita tentang persahabatan lima orang anak manusia yang bernama Arial, Riani, Zafran, Ian, dan Genta. Dimana mereka memiliki obsesi dan impian masing-masing. Lima sahabat ini telah menjalin persahabatan selama tujuh tahun. Suatu ketika mereka merasa jenuh dengan aktivitas yang selalu mereka lakukan bersama-sama.Terbersit id […]
  • Panduan Lengkap Memakai Adobe Photoshop CS - Adi Kusrianto
    Download eBook Gratis Panduan Lengkap Memakai Adobe Photoshop CS karya Adi Kusrianto. Buku ini disertai dengan contoh-contoh yang memotivasi pembaca untuk mencoba dan berkreasi dengan idenya sendiri serta menyajikan penjelasan singkat serta lengkap seluruh komponen yang ada pada Photoshop CS. Adobe Photoshop adalah salah satu produk andalan dari Adobe Corpor […]
  • Gajah Mada : Perang Bubat - Langit Kresna Hariadi
    Download eBook Gratis Gajah Mada 4 : Perang Bubat oleh Langit Kresna Hariadi adalah salah satu tonggak sejarah yang amat penting, kisahnya menjadi pewarna perjalanan Nusantara. (Perang Bubat) Perang yang mengawali kehancuran Majapahit itu menyisakan luka yang amat dalam bagi Jawa dan Sunda. Ini adalah akhir konflik kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh, sekalig […]
  • Gajah Mada - Langit K. Hariadi
    Download eBook Gratis Gajah Mada Setting pada novel ini adalah pemerintahan Jayanegara yang dikudeta oleh Ra Kuti. Ra Kuti adalah sebutan/singkatan dari Rakrian Kuti, sebuah anugerah dari Prabu Jayanegara menjadikan namanya menjadi Rakrian Dharma Putra Winehsuka.Dikisahkan pada jaman ini Gajah Mada masih seorang bekel, sebuah pangkat ketentaraan di bawah sen […]
  • Gajah Mada : Hamukti Palapa - Langit K. Hariadi
    Download eBook Gratis Gajah Mada : Hamukti Palapa - Langit K. Hariadi. Entah ilham dari mana yang merasuki jiwa dan pikiran Gajah Mada hingga ia begitu terobsesi untuk mengikat serakan pulau yang sedemikian banyak dan luas dalam wadah Nusantara di bawah panji¬panji Majapahit Entah keteguhan macam apa yang dimiliki Gajah Mada hingga tanpa keraguan sedikit pun […]
Adsense Indonesia

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Sudah dilihat

  • 186,154 kali

Masukan alamat email.

Join 8 other followers

Top Rate